PSI Tegaskan Jokowi Bukan Resmikan Bandara IMIP, tapi Morowali

Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi dan bandara Morowali, PSI sebut bukan IMIP (instagram @hypekabar)

Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi dan bandara Morowali, PSI sebut bukan IMIP (instagram @hypekabar)

Suaranusantara.com- Polemik Bandara IMIP Morowali masih terus menjadi sorotan. Sebab, selama enam tahun beroperasi sejak 2019, bandara IMIP beroperasi tanpa pengawasan negara. Bandara IMIP diresmikan 2019 di era pemerintahan Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi. Namun, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan tegas membantah bahwa Jokowi bukan meresmikan bandara IMIP.

Kata Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP PSI, Andy Budiman menjelaskan bahwa ada dua bandara di Morowali. Namun, yang diresmikan Jokowi adalah bandara Morowali bukan IMIP.

“Pak Jokowi tidak pernah meresmikan Bandara PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Bandara yang diresmikan Pak Jokowi adalah Bandara Morowali atau Bandara Bungku. Memang ada dua bandara di sana; satu milik negara, satu milik swasta,” ujar Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP PSI Andy Budiman, Kamis 27 November 2025.

Terkait adanya kabar Jokowi meresmikan bandara IMIP, Andy mengatakan bahwa ada pihak-pihak yang sengaja memanipulasi fakta.

“Pihak-pihak tertentu sengaja memanipulasi fakta,” kata dalam keterangannya di Jakarta.

Andy menyesalkan adanya pihak-pihak yang menyebarkan informasi yang tidak tepat tentang bandara di Morowali dan mengaitkannya dengan Jokowi.

Andy menambahkan, bandara yang diresmikan Jokowi beroperasi secara normal, tidak ada masalah.

Mengutip laman Sekretariat Kabinet, Jokowi meresmikan Bandara Morowali yang dikelola Ditjen Perhubungan Udara pada 23 Desember 2018.

Peresmian dilakukan secara bersamaan dengan empat pengembangan terminal bandara lain di Sulawesi.

“Yang lagi ramai diperbincangkan, juga oleh Pak Menhan Sjafrie Sjamsuddin, adalah bandara milik swasta dan bandara itu tidak ada kaitan sama sekali dengan Pak Jokowi,” lanjut Andy.

PSI juga berharap agar publik lebih bijak dalam menerima dan mencerna informasi.

“Dari banjir informasi yang kita terima setiap hari, ada saja terselip hoax atau fitnah. Jangan mudah termakan. Mengecek ulang selalu perlu dilakukan,” tutur Andy.

Exit mobile version