Gerindra Angkat Bicara Soal Pernyataan Prabowo Sebut Rakyat di Desa Tak Pakai Dolar

Presiden RI Prabowo Subianto bicara rupiah melemah (Instagram @sekretariat.kabinet)

Presiden RI Prabowo Subianto bicara rupiah melemah (Instagram @sekretariat.kabinet)

Suaranusantara.com- Partai Gerindra angkat bicara terkait pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut bahwa rakyat di desa tak pakai dolar. Pernyataan itu disampaikan Prabowo di tengah rupiah melemah di angka Rp.17.600 per dolar Amerika Serikat (AS).

Melalui Juru Bicara DPP Partai Gerindra, Bahtra Banong, mengatakan bahwa Prabowo memahami sepenuhnya dampak penguatan dolar terhadap ekonomi nasional.

Adapun maksud pernyataan Prabowo, kata Bahtra, agar masyarakat tetap tenang dalam menyikapi tekanan ekonomi global.

Bahtra juga mengatakan, bahwa pidato yang muncul di media sosial itu sepotong-potong tidak menampilkan full, sehingga nampak Prabowo tidak memahami dampak melemahnya rupiah.

“Pidato Presiden dipotong hanya pada satu kalimat, lalu dibangun framing seolah Presiden tidak memahami dampak dolar terhadap ekonomi. Itu jelas keliru dan tidak fair. Kalau didengar utuh, Presiden sedang mengajak rakyat untuk tidak usah panik karena fundamental ekonomi Indonesia kuat,” kata Bahtra dalam keterangannya, dikutip Selasa 19 Mei 2026.

Ia menegaskan Prabowo sangat memahami dinamika ekonomi global, termasuk dampak perang dagang, tekanan geopolitik, hingga pelemahan mata uang negara berkembang.

Namun di sisi lain, Presiden juga memiliki tanggung jawab menjaga psikologi publik agar tidak larut dalam kepanikan.

“Presiden tidak ingin rakyat dibebani rasa takut berlebihan. Pesan beliau sederhana yakni jangan mudah panik, jangan mudah merasa Indonesia akan colaps hanya karena tekanan global. Kita punya kekuatan ekonomi domestik yang besar,” jelas dia.

Menurut Bahtra, narasi pesimisme yang terus berkembang justru bisa berdampak buruk terhadap psikologi pasar dan kepercayaan publik terhadap kondisi ekonomi nasional.

“Dalam situasi global yang sulit, bangsa ini membutuhkan optimisme dan kepercayaan diri. Presiden Prabowo sedang membangun semangat itu. Jangan setiap pernyataan dipotong lalu dijadikan bahan propaganda politik,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Bahtra menjelaskan ucapan “orang desa tidak pakai dolar” merupakan bentuk komunikasi sederhana Prabowo untuk menggambarkan bahwa ekonomi masyarakat bawah tetap bergerak karena ditopang sektor riil dan konsumsi domestik.

Ia juga menyinggung berbagai agenda besar pemerintahan Prabowo yang disebut berfokus pada penguatan ekonomi nasional, mulai dari hilirisasi industri, swasembada pangan, ketahanan energi, hingga penguatan koperasi desa Merah Putih.

“Justru inti pidato Presiden adalah bahwa Indonesia sedang bergerak menuju kemandirian ekonomi. Kita memperkuat hilirisasi, memperbesar ekspor, mengurangi ketergantungan impor, dan membangun kekuatan produksi nasional. Banyak program prioritas pemerintah yang basisnya kekuatan domestik, bukan ketergantungan terhadap dolar,” tambah Bahtra.

Ia pun mengajak masyarakat melihat pidato Presiden secara menyeluruh dan objektif, bukan melalui potongan narasi yang dianggap menyesatkan.

“Presiden Prabowo sedang menyampaikan pesan besar bahwa Indonesia harus percaya pada kekuatan sendiri, berdiri di atas kaki sendiri, dan terus melangkah menuju kemandirian ekonomi nasional,” tambah Bahtra.

Exit mobile version