JFF 2026, Ketua DK LPS : Teknologi Harus Tumbuh Seiring Dengan Literasi, Etika dan Tanggung Jawab Finansial

Suaranusantara.com- Pada hari pertama Jogja Finansial Festival 2026 (JFF 2026) yang digelar di Jogja Expo Center pada Jumat, 22 Mei 2026, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyatakan bahwa, masyarakat khususnya generasi muda tidak boleh membiarkan teknologi tumbuh lebih cepat daripada etika, literasi, dan tanggung jawab finansial bangsa.

“Kita menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan dimana anak muda mudah membuka akun investasi, tetapi belum mampu menyusun perencanaan keuangan; masyarakat semakin aktif bertransaksi digital, tetapi banyak rekening menjadi pasif; pinjaman online ilegal tumbuh cepat; judi digital menyusup melalui platform teknologi, dan investasi semu terus memanfaatkan rendahnya pemahaman masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, itulah alasan yang tepat, mengapa JFF 2026 digelar di Yogyakarta. Terlebih Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar.

“Itulah mengapa Financial Festival 2026 di Yogyakarta menjadi begitu penting. Ini bukan sekadar festival tentang ekonomi, investasi, atau literasi keuangan. Ini adalah pertemuan gagasan, keberanian, dan harapan generasi muda Indonesia. Tempat anak-anak muda belajar bahwa mengelola masa depan bukan hanya soal mencari manfaat finansial, tetapi tentang membangun ketahanan, menguasai teknologi, memitigasi risiko, menjaga martabat, dan menciptakan peluang,” jelasnya.

*Optimisme Dari Sesi Business Talks JFF 2026*

Di sesi Business Talks JFF 2026 yang dipandu oleh Chairman CT Corp Chairul Tanjung, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga mengapresiasi sistem coretax yang salah satunya digagas oleh Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu waktu masih menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.

“Sistem itu terbukti berjalan sangat baik, terima kasih ya Pak Anggito, sekarang penerimaan pajak sudah sangat baik dan meningkatkan transparansi serta kepatuhan wajib pajak,” ujarnya.

Kemudian dia juga menyerukan optimismenya terkait penguatan nilai tukar rupiah.

“Berkat kepastian berlakunya aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang sempat mandek berbulan-bulan akibat lobi pebisnis, dipadukan dengan derasnya aliran dana masuk dari penerbitan obligasi global (global bond),” jelasnya.

Diharapkan dampak dari devisa hasil ekspor itu ke devisa negara akan semakin signifikan, yang akan memperkuat nilai tukar juga.

Exit mobile version