Suaranusantara.com- Nama Chatib Basri tengah menjadi perbincangan hangat lantaran ramai isu dirinya bakal menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan (Menkeu).
Hal ini dikarenakan, menyusul santernya rumor Purbaya mundur dari Menkeu, Chatib Basri mendadak pulang ke Indonesia dari Amerika Serikat (AS).
Purbaya sendiri telah membantah rumor mundur dari Menkeu dengan menyebut bahwa itu tidaklah benar.
“Ha ha ha enggak bener lah,” kata Purbaya melalui pesan singkat WhatsApp saat ditanya isu mundur dari Menteri Keuangan, Kamis 4 Juni 2026.
Kepulangan Chatib ke Indonesia, di tengah santernya isu reshuffle ekonomi.
Sejumlah kolega yang sedang berada di AS dikabarkan sempat berencana bertemu dengan Chatib di Boston. Namun agenda tersebut batal karena Chatib lebih dulu terbang ke Indonesia.
“Sudah terbang ke Jakarta. Tadinya mau bertemu hari Kamis,” ujar seorang sumber melalui pesan elektronik, Jumat, 5 Juni 2026.
Kepulangan mendadak Chatib langsung memicu spekulasi baru. Dalam beberapa hari terakhir, beredar kabar bahwa Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan perubahan di sektor ekonomi, termasuk kemungkinan pergantian posisi Menteri Keuangan.
Bersamaan dengan itu, muncul pula informasi bahwa Purbaya masuk dalam bursa calon Gubernur Bank Indonesia menggantikan Perry Warjiyo.
“Kelihatannya memang akan menggantikan Purbaya,” kata sumber yang sama.
Chatib Basri bukanlah sosok asing di dunia politik Indonesia. Diketahui, Chatib merupakan Menteri Keuangan (Menkeu) era Presiden ke 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) periode 2013-2014.
Ia merupakan bagian dari Kabinet Indonesia Bersatu II dan dilantik pada tanggal 21 Mei 2013. Ia menggantikan Agus Martowardojo, yang saat itu terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia.
Sebelum menjabat sebagai Menteri Keuangan, pria kelahiran 22 Agustus 1965 ini memegang posisi strategis lainnya, yaitu sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Chatib Basri menjabat Menkeu hingga berakhirnya masa jabatan Presiden SBY pada 20 OKtober 2014.
Meskipun masa jabatannya tergolong singkat, yakni sekitar 1,5 tahun. Chatib Basri dihadapkan pada tantangan ekonomi global yang cukup berat
Contohnya adalah Taper Tantrum, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Kebijakan ini memicu gejolak pasar keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selama menjabat, ia dikenal sangat disiplin dalam menjaga defisit anggaran dan mengelola kebijakan subsidi BBM untuk menjaga kesehatan APBN di akhir masa pemerintahan SBY.
Selain dikenal sebagai mantan menteri, Chatib Basri adalah seorang akademisi dan ekonom kawakan.
Chatib Basri mengenyam pendidikan di Kolese Kanisius. Ia lantas meneruskan pendidikan sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1992).
Setelahnya ia melanjutkan pendidikannya di Australia National University dan mendapatkan gelar Master of Economic Development (M.Ec.Dev.) pada tahun 1996.
Lima tahun kemudian ia memperoleh gelar Ph.D di bidang Ekonomi dari universitas yang sama. Chatib juga diketahui aktif sebagai dosen di FEB UI
