Suaranusantara.com- Publik kemungkinan akan bisa bernafas lega, lantaran beredar kabar bahwa BBM Pertamina non subsidi jenis Pertamax bakal turun harga.
Anak buah Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia yang mengatakan Pertamax berpeluang turun harga.
Hal ini dikarenakan menyusul harga minyak dunia yang mengalami pelemahan pasca pengumuman damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Sebelumnya, pemerintah dan Pertamina resmi menaikan harga Pertamax RON 92 dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp.16.250 per liternya.
Lalu Pertamax Green RON 95 dari Rp.12.900 per liter menjadi Rp.17.000 per liternya. Kenaikan itu mulai diberlakukan per 10 Juni 2026.
Menurut Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia, harga BBM non subsidi sendiri sesuai dengan harga keekonomian. Bila harga minyak dunia turun harga jual Pertamax cs juga bisa turun.
“Apakah harganya bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun sudah dipastikan harga BBM non subsidi akan turun. Begitu juga sebaliknya ketika harga minyak dunia naik, mau tidak mau tidak terhindarkan dia akan sesuaikan harga keekonomiannya,” beber Anggia di Gedung Bakom, Jakarta Selatan, Rabu 17 Juni 2026.
“Kalau tidak ini akan mempengaruhi keberlanjutan pengadaan energi nasional,” tambahnya.
Harga minyak dunia kembali anjlok sekitar 5% pada perdagangan hari Selasa dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Penurunan ini terjadi setelah kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran dan pembukaan Selat Hormuz. Kesepakatan itu juga membuka jalan bagi Iran untuk kembali menjual minyak ke pasar global.
Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 4,21 atau 5,1% menjadi US$ 78,96 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 4,70 atau 5,8% menjadi US$ 76,05 per barel.
Penutupan tersebut menjadi yang terendah bagi Brent sejak 2 Maret dan bagi WTI sejak 4 Maret. Sebagai perbandingan, sebelum perang AS-Iran pecah pada 28 Februari, harga Brent ditutup di level US$ 72,48 per barel dan WTI berada di US$ 67,02 per barel.
Anggia melanjutkan selama ini kenaikan harga BBM nonsubsidi di berbagai negara tetangga sudah terjadi. Justru Indonesia sempat mencoba menahan kenaikan harga tersebut demi menjaga daya beli masyarakat.
“Kita tahu April kemarin sesuai arahan Presiden pemerintah masih mencoba harga kestabilan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat, ada diskusi dengan badan usaha pelat merah dan badan usaha swasta untuk mempertahankan BBM subsidi. Tapi seiring berjalannya waktu fluktuasi harga yang makin dinamis pelaku usaha sesuaikan harga keekonomiannya,” papar Anggia.
Dia kembali menekankan, bila harga minyak dunia terus mengalami pelemahan, maka tak menutup kemungkinan terjadi penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
“Kalau ditanya harga minyak dunia akan turun nggak? Pasti nanti akan ada penyesuaian juga harga BBM nonsubsidi,” beber Anggia.
