Prabowo Mengungkap Penyebab di Balik Rupiah Melemah

Presiden RI Prabowo Subianto saat hadiri acara penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa 23 Juni 2026 (Instagram @kemensetneg.ri)

Presiden RI Prabowo Subianto saat hadiri acara penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa 23 Juni 2026 (Instagram @kemensetneg.ri)

Suaranusantara.com- Presiden RI Prabowo Subianto dalam pidatonya di acara penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa 23 Juni 2026, mengungkap penyebab Rupiah terus mengalami pelemahan pada beberapa waktu lalu hingga menembus Rp.18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kata Prabowo, yang menjadi salah satu penyebab Rupiah melemah lantaran terus mengalirnya kekayaan negara ke luar negeri.

Indonesia, kata Prabowo, sebenarnya mencatat surplus perdagangan dan memperoleh keuntungan besar dari aktivitas ekonomi internasional.

Namun, sebagian besar keuntungan tersebut justru tidak bertahan di dalam negeri karena keluar kembali ke luar negeri dalam bentuk arus modal maupun aliran kekayaan lainnya

“Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah, ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar. Kalau darah kita tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita kolaps, mati,” ujar Prabowo di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa 23 Juni 2026.

Ia menyampaikan hal tersebut saat memaparkan hasil pengolahan data perdagangan internasional yang bersumber dari United Nations Comtrade dan dianalisis oleh Dewan Ekonomi Nasional (DEN).

Menurut Prabowo, data tersebut menunjukkan Indonesia mencatat keuntungan bersih dari perdagangan internasional selama sebagian besar periode dua dekade terakhir.

Dari 22 tahun terakhir, Indonesia disebut hanya mengalami kondisi kurang menguntungkan selama lima tahun, sementara 17 tahun lainnya mencatat surplus.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, total keuntungan Indonesia selama 22 tahun mencapai US$436 miliar atau setara Rp7.790,01 triliun (asumsi kurs Rp17.867 per dolar AS).

Namun dalam periode yang sama, arus dana yang keluar dari Indonesia mencapai US$343 miliar atau Rp6.134,14 triliun.

“Kalau kita lihat selama 22 tahun bangsa Indonesia sebagai bangsa sebenarnya telah untung. Dari 22 tahun, 17 tahun kita untung dan keuntungan kita adalah US$436 miliar selama 22 tahun,” ujarnya.

Prabowo menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya fenomena yang telah lama ia soroti, yakni keluarnya kekayaan nasional ke luar negeri atau yang ia sebut sebagai net outflow of national wealth.

Menurutnya, meskipun Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah dan terus menghasilkan surplus, manfaat ekonomi yang tersisa di dalam negeri menjadi jauh lebih kecil karena sebagian besar keuntungan mengalir keluar.

“Begitu kayanya Republik kita, tiap tahun kekayaan kita diambil keluar, kita masih berdiri. Jadi kita lihat dari neraca itu inflow, outflow,” katanya.

Pernyataan Prabowo muncul di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir.

Pada penutupan perdagangan Selasa sore 23 Juni 2026, Rupiah berada di level Rp17.859 per dolar AS atau melemah 16 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati sejumlah faktor eksternal yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Exit mobile version