Oh Pantes! Ternyata Ini Biang Kerok Mati Listrik di Beberapa Daerah, Bahlil Beberkan

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beberkan penyebab mati listrik di sejumlah daerah khusus wilayah Jawa Barat (Instagram @melangkahdaritimur)

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beberkan penyebab mati listrik di sejumlah daerah khusus wilayah Jawa Barat (Instagram @melangkahdaritimur)

Suaranusantara.com- Beberapa hari terakhir ini sejumlah daerah mengalami mati listrik. Durasi mati listrik sendiri terjadi selama kurang lebih tiga jam, itu pun tanpa adanya pemberitahuan awal.

Kondisi mati listrik terjadi di wilayah hampir seluruh pulau Jawa. Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan alasan seringnya mati listrik yang dialami sejumlah daerah.

Kata Bahlil, kondisi mati listrik seperti kondisi sekarang sebelumnya pernah dialami pada 2022 lalu. Di mana, pada 2022 itu pemerintah mengeluarkan kebijakan pelarangan impor batu bara.

Hal ini disampaikan Bahlil saat rapat bersama PLN serta Jaksa Agung ST Burhanuddin, Kepala BIN Muhammad Herindra, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco, Menteri Sekretariat Negara Prasetyo Hadi dan Sekretais Kabinet Tedy Indrajaya, yang membahas mati listrik bergilir yang terjadi di sejumlah daerah.

“Kita bedah, apa masalah yang sedang terjadi. Karena ini pernah terjadi di tahun 2022 di mana kita melarang ekspor batu bara, saya mempertanyakan ada apa sih ini?” terang Bahlil.

Ia menguraikan, bahwa sejatinya kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT PLN (Persero) dan juga swasta sebanyak 154 juta ton.

Di mana dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026 suplai batu bara untuk dalam negeri sebanyak 180 juta ton.

“Yang sudah menyatakan kesediaannya 160 – 170 juta ton, dan yang sudah kontrak 134 juta ton, terakhir sudah 141 juta ton artinya 1 Januari sampai Juni dari 154 juta itu tinggal 13 juta ton. Masa batu bara habis di bulan 6, ini ilmu abuleke apalagi, kayanya kita jujur-jujur aja, berati ada sesuatu,” terang Bahlil.

Lalu, kata Bahlil, setelah pihaknya mengecek masalahnya adalah pembangkit listrik membutuhkan batu bara dengan jenis kalori yang medium yakni di atas 5.000-an.

“Ini lah yang dibutuhkan, kalau pemerintah itu tugasnya memberikan DMO, teknisnya ya kamu perusahaan, jangan air udah dileher baru teriak, karena seperti itu maka atas arahan bapak Presiden tidak ingin kejadian lagi, sekarang kan udah jalan normal ini sekarang,” tegas Bahlil.

Saat ini pemerintah sudah membentuk Tim Pengadaan Energi Primer yang melibatkan BPKP, Irjen ESDM, PLN dan Dirjen Minerba.

“Pengadaannya harus transparan dan saya minta aparat penegak hukum awasi supaya jangan kelakuan begini setiap tahun muncul terus,” ungkap Bahlil.

Exit mobile version