Menkop Lapor ke Prabowo: 15.845 Bangunan Fisik Kopdes Merah Putih Telah Rampung 100 Persen

Menkop Ferry Juliantono bersama Presiden RI Prabowo Subianto (Instagram @kemenkop)

Menkop Ferry Juliantono bersama Presiden RI Prabowo Subianto (Instagram @kemenkop)

Suaranusantara.com- Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono melapor ke Presiden RI Prabowo Subianto terkait pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih.

Kata Menkop, ada sebanyak 83.000 Kopdes Merah Putih yang telah berbadan hukum akta. Lalu, sebanyak 15.845 bangunan fisik Kopdes Merah Putih sudah selesai dibangun lengkap dengan kelengkapan di dalamnya.

“Kemudian yang 100% bangunan fisik, gudang, gerai, dan alat kelengkapannya berjumlah 15.845,” kata Ferry.

Menkop juga melaporkan sebanyak 19.539 Kopdes Merah Putih masih dalam proses pembangunan.
Dengan begitu total sebanyak 35.000 Kopdes Merah Putih siap menjual barang-barang kepada masyarakat.

“Insyaallah, bersamaan dengan selesainya pelatihan dan pendidikan bagi manajer koperasi desa yang direncanakan awal di minggu pertama bulan Agustus, mereka akan kita tempatkan di seluruh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang sudah selesai bangunan fisik, gudang, gerai, dan alat kelengkapannya,” katanya.

“Nanti atas perkenanan Bapak, kami juga ingin, saya Bapak Presiden meresmikan operasionalisasi dari Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih nanti insyaallah di bulan Agustus,” sambungnya.

Dalam kesempatan itu, Menkop turut menyampaikan soal temuan dari masyarakat yang di mana sejumlah lokasi koperasi dirasa tak ideal, seperti di pelosok.

Menkop mengatakan, dari belasan ribu bangunan Kopdeskel Merah Putih yang sudah dibangun, hanya sedikit yang lokasinya dianggap tak ideal.

“Misalkan di media sosial (ramai soal) ada beberapa lokasi Kopdeskel Merah Putih yang dianggap tidak ideal. Tapi, setelah kita jelaskan, bahwa yang tidak ideal itu berapa, di mana saja, ternyata kan angkanya tidak banyak,” ujar Ferry.

Ia mencontohkan, dari total target 30 ribu Kopdeskel Merah Putih yang tengah dibangun, paling tidak ada 20 bangunan yang lokasinya tak ideal.

Ferry bilang, jumlah lokasi yang tak ideal ini akan dicarikan solusi untuk perbaikan.

“Taruhlah 20 (bangunan) dari 30 ribu yang kita lagi bangun. Coba, itu ‘kan sedikit. Nah, kalau pun misalkan tidak ideal, nanti kita akan carikan solusi. Tapi perlu diketahui, bahwa penentuan lokasi tersebut, termasuk yang tidak ideal, dilakukan penentuan lokasinya melalui masyarakat di desa itu,” ungkapnya.

Ferry bilang, karena ada kesepakatan dari perangkat desa perihal penempatan pembangunan koperasi pelat merah, itulah yang dijadikan landasan berdirinya bangunan Kopdeskel Merah Putih. Kata Ferry, inilah yang kadang tak diketahui secara utuh oleh warganet di jagat media sosial.

“Ya, kesepakatan di desa. Nah, ini ‘kan sisi-sisi ini kadang-kadang tidak diketahui oleh yang memviralkan. Saya tidak tahu tujuan memviralkannya apa. Tapi, maksud saya, sisi baiknya itu masukan bagi kami. Tapi, ada sisi yang perlu untuk kami sampaikan bahwa sebenarnya penentuan lokasi itu sudah atas dasar musyawarah di desa tersebut,” katanya.

Di sisi lain, ia tak memungkiri ada keterbatasan lahan di desa-desa tertentu yang tak bisa sesuai dengan standar prototipe yang diinginkan.

Itulah sebab, hingga akhir tahun ini pembangunan Kopdeskel Merah Putih ditutup di angka 40 ribu bangunan terlebih dulu, untuk dikaji lagi ke depannya.

“Kami mengakui ada keterbatasan soal lahan di desa-desa sesuai dengan prototipe yang kita inginkan. Oleh karena itu, kami akhirnya memutuskan sampai akhir tahun bisa sampai 40 ribuan (bangunan). Kita stop dulu di tahun ini 40 ribuan,” bebernya.

“Tahun depan, kita akan bangun lagi secara bertahap dengan beberapa modifikasi. Kami sekarang sedang mengkaji, misalkan untuk bangunan Kopdeskel Merah Putih, khususnya di kelurahan atau kota-kota yang bisa jadi beda prototipenya,” pungkasnya.

Exit mobile version