Momen Prabowo Minta Peneliti BRIN Matikan Mic Saat Sesi Penjelasan PLTN

Momen Presiden Prabowo Subianto sambangi booth peneliti BRIN booth tenaga nuklir (Instagram @sekretariat.kabinet)

Momen Presiden Prabowo Subianto sambangi booth peneliti BRIN booth tenaga nuklir (Instagram @sekretariat.kabinet)

Suaranusantara.com- Peneliti Badan Riset dan Teknologi Inovasi Nasional (BRIN) pada Kamis 6 Agustus 2026 menjelaskan terkait teknogi nuklir di hadapan Presiden Prabowo Subianto secara langsung.

Pemaparan itu berlangsung di halaman kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Di mana, Prabowo diketahui mengundang sebanyak 150 peneliti BRIN dalam pertemuan itu.

Menariknya, saat sesi penjelasan yang dipapaekan oleh peneliti BRIN, Prabowo meminta untuk mic dimatikan.

Diketahui, 150 peneliti BRIN memamerkan 15 booth hasil riset dan inovasi dari sejumlah klaster teknologi baik unggulan, turunan dari 8 Agenda Riset Nasional.

Riset yang dipamerkan di antaranya kedirgantaraan dan keantariksaan, ketahanan air, ketenaganukliran, energi dan mineral, lingkungan dan pengelolaan sampah, perumahan dan kebencanaan, kesehatan, transportasi, MBG, pangan dan pertanian, pendidikan, perikanan, pertahanan dan keamanan, hingga pelestarian warisan budaya.

Momen permintaan mic dimatikan bermula ketika Prabowo tampak menyambangi satu per satu booth tersebut. Dia juga tampak antusias dan senang dengan berbagai riset yang dihasilkan oleh para peneliti di dalam negeri.

Saat menyambangi booth Teknologi Nuklir, Presiden Prabowo mendapat penjelasan secara gamblang dari peneliti.

Peneliti menyebut bahwa teknologi ini disiapkan salah satunya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

“Kami bagi menjadi teknologi untuk energi, Persiapan energi untuk PLTN, kemudian non energi untuk pangan dan kesehatan,” jelas peneliti.

Peneliti kemudian menjelaskan bahwa teknologi yang dimiliki Indonesia saat ini sudah mumpuni untuk menjalankan PLTN. Dia menyebut bahwa Indonesia juga memiliki sumber daya yang mencukupi.

“Untuk PLTN kita sudah siap dengan bahan nuklir di Indonesia, kita punya potensi uranium 89 ribu ton Indonesia, torium 143 ribu ton di Indonesia sejauh ini, dan ini adalah kemampuan dari kami memurnikan uranium hingga 60 persen,” jelas peneliti.

Saat peneliti ingin menjelaskan lebih lanjut, Presiden Prabowo kemudian meminta peneliti untuk menjelaskan tanpa mic.

Sehingga, obrolan yang berlangsung antara Presiden Prabowo dan peneliti tidak dapat diketahui secara umum.

“Kemudian mineral ikutan dari radioaktif….” jelas Peneliti terpotong.

Pada kesempatan lain, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan bahwa apa yang ditampilkan BRIN bukan sekadar etalase produk riset, melainkan penanda bahwa Indonesia memiliki kapasitas nyata untuk menjawab kebutuhan strategis bangsa secara mandiri, khususnya di bidang strategis seperti pangan, energi, air, kesehatan, pertahanan, dan industrialisasi nasional.

Exit mobile version