Suaranusantara.com- Ketua Umum (Ketum) PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya di upacara HUT ke 81 RI yang digelar di Sekolah PDIP Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin 17 Agustus 2026 menjelaskan alasan dirinya sering meneriakan kata ‘Merdeka’.
Megawati mulanya mengaku heran masih banyak orang yang kerap memandang sebelah mata di balik teriakan ‘Merdeka’.
“Mengapa saya ketika sering meneriakkan kata ‘merdeka’, saya seperti dilecehkan? ‘Sudah merdeka tapi masih teriak-teriak merdeka’,” kata Presiden ke 5 RI tersebut dalam pidatonya, Senin 17 Agustus 2026.
Lalu Megawati menceritakan alasan di balik dirinya yang sering meneriakan ‘Merdeka’. Megawati berujar hal itu merupakan sebuah masukan dari para pejuang negeri ini.
Megawati mengaku sempat kepada para pejuang kemerdekaan yang kerap berkumpul di Istana Merdeka saat sang ayah, Soekarno, menjabat Presiden RI.
“Padahal sebenarnya, saya mendapatkan masukan dari para pejuang yang pada waktu itu sering berkumpul di Istana Merdeka ketika ayah saya masih menjadi presiden,” ucap Megawati.
Megawati berujar, para pejuangan dulu mempunyai tekad jika tak merdeka, maka lebih baik mati
“Saya bertanya ‘Kenapa sih kok mesti teriak merdeka-merdeka?’. Oh karena kita pada waktu itu sudah mempunyai tekad ‘kalau tidak merdeka lebih baik mati’. Makanya kalau kita saling bertemu, yang satu mengatakan ‘merdeka’, yang lain mengatakan ‘mati’,” lanjutnya.
Namun karena kini Indonesia telah berhasil meraih kemerdekaannya, Megawati menegaskan teriakan ‘Merdeka’ harus dijawab dengan semangat yang sama.
“Tapi setelah karena kita sudah merdeka, maka kalau merdeka harus dijawab dengan ‘Merdeka!’ Jangan itu dilupakan. Maukah kalian untuk dijajah kembali?” tanya Megawati.
“Tidak,” kata peserta upacara menjawab serentak.
Megawati kemudian berpesan agar semangat ini disebarkan kepada lingkungan terdekat. Dia mengingatkan kemerdekaan diraih dengan pengorbanan yang sangat besar.
“Katakan ini kepada keluarga kalian, kepada teman-teman kalian. Untuk itu makanya, harus selalu mencintai yang namanya Negara Republik Indonesia tercinta,” ujar Megawati.
“Oleh sebab itu, saudara-saudara sekalian, darah para pejuang, harapan rakyat, dan cita-cita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya harus terus menyala di dalam dada dan hati kita,” tegasnya.
Baginya, peringatan 17 Agustus bukan sekadar seremonial mengibarkan bendera. Namun, dia meminta masyarakat Indonesia merenungkan kembali arah tujuan bangsa agar tidak terjebak pada kepentingan pribadi.
“Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apa arti kemerdekaan itu? Untuk apa kita merdeka? Maukah kita dijajah lagi? Tiga setengah abad, seperti apa saya bayangkan ibu-ibu pada waktu itu pasti merasa ketakutan karena suaminya pergi untuk menjadi pejuang,” kata Megawati.
“Tiga setengah abad bukanlah waktu yang sedikit. Bayangkan kalau kita saja sekarang sedang merayakan 81 yang namanya usia kemerdekaan kita, dan ke mana bangsa Indonesia akan kita bawa? Jangan kita bermain-main hanya untuk senang-senang sendiri,” sambungnya.
Lebih lanjut, Megawati juga menekankan pentingnya sebuah bangsa untuk berani melihat sejarahnya secara jujur, baik itu pahit maupun manis.
Dia tak mau Indonesia menjadi bangsa yang kerdil karena tidak berani menghadapi sejarahnya sendiri.
“Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menatap sejarahnya sendiri. Bukan hanya sejarah yang indah, tetapi juga sejarah yang pahit. Bukan hanya sejarah yang membanggakan, tetapi juga sejarah yang menyisakan pertanyaan,” imbuhnya.
