Alhamdulilah! BNPB Ungkap Titik Api Karhutla Kalimantan Menurun, Ini Rinciannya

Karhutla Kalimantan, BNPB deteksi mengalami penurunan titik api (Instagram @nuolinenews)

Karhutla Kalimantan, BNPB deteksi mengalami penurunan titik api (Instagram @nuolinenews)

Suaranusantara.com- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kalimantan mulai mengalami penurunan.

Penurunan titik api itu terjadi di Kalimantan Barat sebanyak tujuh titik menjadi 16. Lalu Kalimantan Tengah berkurang 23 titik menjadi 56, dan Kalimantan Selatan berkurang 279 titik menjadi 52.

Sayangnya, BNPB masih mendeteksi adanya peningkatan hotspot atau titik panas di Kalimantan Barat dan Tengah

Peningkatkan hotspot karhutla di Kalimantan Barat mencapai 453 titik, sedangkan di Kalteng bertambah 876 titik. Hal ini berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla Kemenhut

Di Kalimantan Barat, luas lahan terbakar mencapai 38.310,39 hektare, sedangkan di Kalimantan Tengah 7.634,46 hektare dan Kalimantan Selatan 8.019,63 hektare.

“Kita berharap di lain waktu juga seperti ini (penurunan titik api) bisa terjadi di provinsi-provinsi yang lain,” kata Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers virtual BNPB, Minggu 30 Agustus 2026.

Adapun data titik panas yang dilaporkan BNPB berasal dari Sistem Pemantauan Karhutla Kemenhut, sedangkan data titik api dari Sistem Pemantauan Karhutla Kemenhut dan atroli udara dan darat BPBD setempat hingga Sabtu 29 Agustus 2026.

Sementara untuk karhutla di Sumatera, BNPB melaporkan titik api cenderung naik. Titik api di Riau terpantau bertambah menjadi 12 titik dan Sumatera Selatan bertambah menjadi 18 titik.

Total luas lahan yang terbakar di Riau mencapai 17.503,87 hektare, Sumatera Selatan, 1.926,23 hektare, dan Jambi 1.245,53 hektare.

Berton menambahkan, pemerintah menerjunkan 48.667 personel untuk penanganan karhutla di enam provinsi prioritas. Proses pemadaman saat ini disebutnya fokus pada penyekatan dan pembasahan lahan terbakar.

Berton menyatakan kebakaran lahan ratusan hektare di Kalbar, Kalteng, Sumsel, dan Kalsel telah tertangani, sedangkan penanganan di Riau, Jambi, dan Lampung memasuki fase pendinginan.

Di lain sisi, karhutla juga menyebabkan udara tidak sehat dan berbahaya di Kalimantan dan Sumatera.

Berdasarkan data stasiun pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian LH per Minggu malam, terdapat sembilan kabupaten/kota di Kalimantan yang menunjukkan indeks udara berbahaya, yakni Kabupaten Katingan, Barito Selatan, Kota Pontianak, Gunung Mas, Kotawaringin Timur, Murung Raya, Kota Palangka Raya, Hulu Sungai Selatan, dan Tabalong.

Exit mobile version