Berkat Gerakan Pilah Sampah, Sampah Jakarta ke Bantargebang Mulai Turun 500 Ton

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bicara soal sampah Jakarta (Instagram @dkijakarta)

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bicara soal sampah Jakarta (Instagram @dkijakarta)

Suaranusantara.com- Berkat gerakan pilah sampah yang digagas Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung per 10 Mei 2026 lalu, telah membawa dampak baik. Sebab, melalui gerakan itu, dapat mengurangi jumlah pengiriman sampah Jakarta ke Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.

Berkat gerakan pilah sampah itu, Bantargebang mulai mengalami penurunan sebanyak 500 ton sampah Jakarta.

“Saya mendapatkan laporan bahwa adanya penurunan secara signifikan, yaitu jumlah sampah di rumah tangga dan juga di Bantargebang. Di Bantargebang sendiri ada penurunan kurang lebih 500 ton per hari,” kata Pramono, Selasa 1 September 2026 dalam acara Local Hero Indonesia Forum 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesia Water Institute.

Pramono menjelaskan gerakan pilah sampah yang mulai digalakan per 10 Mei 2026, pengeloaan sampah rumah tangga meningkat dari 5,31 persen menjadi 23,14 persen.

Sama halnya dengan sampah organik, yang dulu cuma 1.046 ton kini mengalami peningkatan jadi 1.432 ton.

“Sejak gerakan pilah sampah dicanangkan pada 10 Mei tahun 2026, rumah tangga yang memilah sampah meningkat dari 5,31% menjadi 23,14%. Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah pengelolaan sampah organik yang dulunya ada di 2.247 bank sampah, naik dari 1.046 ton menjadi 1.432 ton,” lanjutnya.

Ia menyebutkan bahwa gerakan pilah sampah Jakarta sudah berjalan di arah yang tepat. Ia pun meminta Balai Kota menyediakan pembahasan tentang sampah setidaknya satu hari dalam seminggu serta tamu yang berkaitan dengan isu sampah untuk selalu diterima.

Kendati demikian Pram mengakui adanya kendala dalam pelaksanaan gerakan ini, seperti penimbunan sisa sampah swasta di tempat yang tidak semestinya hingga kendala di TPS 3R.

“Saya minta betul Kepala Dinas Lingkungan Hidup untuk penanganan ini enggak boleh setengah-setengah. Penanganan ini harus kadang-kadang memang kita harus keras, penanganan ini harus secara detail untuk diketahui,” ujar Pramono.

Exit mobile version