Suaranusantara.com- Orang dekat Presiden Prabowo Subianto, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ulta Levenia Nababan mengklaim sejumlah bencana yang melanda Indonesia itu disebabkan bukan cuma faktor alam, melainkan diorkestrasi.
Ulta menyampaikan itu dalam sebuah podcast yang tayang di YouTube Reform Syndicate, dilihat Senin 7 September 2026.
Menurutnya, pendapatnya ini bisa dipandang gila oleh sebagian pihak. Kendati demikian, ia tetap menyampaikan ini sebagai bentuk peringatan.
“Pasti gue bakal dibilang gila ini,” kata Ulta dikutip Senin 7 September 2026.
Mulanya, Ulta membicarakan soal gempa di China dan di Turki. Menurutnya, gempa tersebut terjadi setelah adanya konflik dengan Amerika Serikat.
“Tapi dulu pernah di Turki sama di China, mereka pernah gesekan sama Amerika,” ucapnya.
Saat ditanya lebih rinci soal gempa yang dimaksud, Ulta tak menjelaskan. Dia hanya menyebut gempanya terjadi di China dan Turki.
“Lu bisa cek di berita, terus beberapa hari kemudian gempa, di China sama di Turki itu. Itu ada,” terangnya.
“Iya (yang belum lama ini). Kalau ditelusurin lagi itu ada,” sambungnya.
Lalu Indonesia yang dilanda bencana beberapa waktu terakhir ini, Ulta mengaku merefleksikan. Adapun Indonesia dilanda bencana mulai banjir bandang dan tanah longor di Aceh, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Papua.
“Gua sempat ngobrol sama teman gua tuh, ini kok bisa kayak gini yah. Aceh terus Papua bergejolak, habis itu Kalimantan juga kan,” ucapnya.
Rentetan peristiwa itu dia hubungkan dengan film yang baru saja dia tonton. Ulta pun tak menyebut film apa.
“Terus yang lebih aneh lagi, seminggu lalu gua lihat sebuah film, film ini merangkum hal keanehan itu,” imbuhnya.
Berdasarkan hal tersebut, dia meyakini lebih dari 50 persen bencana di Indonesia hingga demonstrasi ada yang mengorkestrasi.
“Sehinga gua 73,5 persen, wah ini pasti ada yang orkestrasi. Kemudian ada demonstrasi,” pungkasnya.
Indonesia memang menghadapi rangkaian bencana di sejumlah wilayah. Banjir bandang, longsor, kebakaran hutan dan lahan, hingga erupsi gunung api terjadi di waktu dan tempat yang berbeda.
Di Aceh, banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah pada akhir November 2025. BNPB mencatat sejumlah daerah di provinsi tersebut terdampak setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah Aceh.
Ancaman bencana kemudian muncul dalam bentuk berbeda di kawasan Kalimantan. Memasuki periode kemarau, kebakaran hutan dan lahan terjadi di sejumlah wilayah di pulau tersebut.
Di Kalimantan Barat, kebakaran hutan dan lahan terjadi pada sejumlah lokasi sepanjang periode musim kering. Kondisi tersebut membuat karhutla menjadi salah satu ancaman yang terus dipantau pemerintah di kawasan Kalimantan.
Sementara di Kalimantan Timur, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara pada Agustus 2026. Penanganan dilakukan setelah titik api terpantau di sejumlah kawasan.
Ancaman karhutla juga muncul di kawasan Papua. Di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, kebakaran hutan dan lahan terjadi pada Rabu, 24 Juni 2026, di Kampung Mekar Sari, Distrik Bomberay.
Di Papua Tengah, kebakaran juga terjadi di Kabupaten Nabire sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Peristiwa tersebut menambah daftar wilayah di Papua yang menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Baru-baru ini Gunung Anak Krakatau di Lampung juga menunjukkan aktivitas erupsi pada. Badan Geologi melaporkan fenomena erupsi menerus pada 5 September 2026.
