Suaranusantara.com – Mafindo bersama Ma’arif Institute, Love Frankie, serta didukung oleh Google.org, mengadakan kegiatan Akademi Digital lanjut usia (Lansia) dan Sekolah Kebangsaan, di 10 wilayah Indonesia.
Kegiatan ini merupakan Program yang disebut sebagai program “Tular Nalar” yang bertujuan untuk mengajak lansia dan remaja menjadi pemilih cerdas dan siap memberantas hoaks pada Pemilu 2024 nanti.
“Hoaks sudah lama menjadi korosif (merusak-red) bagi demokrasi di dunia. Di Indonesia sendiri, hoaks terkait kepentingan Pemilu menjadi tantangan yang memprihatinkan. Kanal distribusi yang paling sering digunakan adalah media sosial,” papar Fasilitator dari Vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati dalam keterangannya di Depok, (16/2/2023).
Devie juga mengatakan bahwa hampir setiap Pemilu dan Pilkada yang diadakan sejak 2014, media sosial menjadi medium untuk menyebarkan hoaks. Data hasil pelacakan Kominfo pada Pemilu 2019 saja didapati terdapat 486 hoaks dimedia sosial pada bulan April. Sedangkan Mafindo menemukan dan mengklarifikasi 1.221 hoaks dilinimasa media sosial Sepanjang Pemilu 2019.
“Pemilih harus menjalankan kedaulatannya melalui keputusan yang mereka buat saat memberikan suara di tempat pemungutan suara (TPS), berdasarkan informasi yang benar dan valid, sehingga suara pemilih menjadi bermakna dalam memastikan yang terpilih adalah mereka yang akan memimpin dengan cara yang adil dan demokratis. ” katanya.
Devi menilai bahwa kondisi saat ini, yaitu sekitar 1 tahun menjelang Pemilu 2024 di Indonesia, kekhawatiran terhadap hoaks kian terasa.
“Oleh karena itu, para lansia dan anak-anak muda saat ini terus berpacu memperkuat literasi digital, terutama kemampuan cek fakta,” papar Devie.
Di Jakarta, Kegiatan Akademi Digital Lansia dilaksanakan di Aula Yayasan Pundi Rakyat, Kemayoran, Jakarta Pusat yang diikuti sekitar 100 warga lansia.
Sedangkan untuk Sekolah Kebangsaan dilaksanakan di Sekolah Master (Masjid Terminal) Depok, yang diikuti oleh 50 siswa dan siswi. Kegiatan ini ditujukan kepada anak muda dengan kriteria pemilih pemula pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.
Kegiatan ini dipimpin oleh Kordinator Fasilitator, yakni Cut Meutia Karolina (Universitas Al Azhar Indonesia) bersama dengan para fasilitator dari Mafindo, Japelidi, serta berbagai kampus yaitu Bintan Humeira (UIN Syarif Hidaytullah Jakarta), Devie Rahmawati (Universitas Indonesia). Kemudian ada Diana Anggraeni (Universitas Pancasila), Engga Probi Endri (Universitas Mercubuana Jakarta), Irwa Rochimah Zarkasi (Universitas Al Azhar Indonesia), Makroen Sanjaya (Universitas Muhammadiyah Jakarta), Martriana Ponimin Said (Universitas Pancasila), Meilani Dhamayanti (Universitas Bina Nusantara), Riki Arswendi (Universitas Mercubuana Jakarta), Soraya Fadhal (Universitas Al Azhar Indonesia).
Untuk diketahui, Mafindo berawal dari Forum Facebook yang bernama FAFHH (Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax) dan dibentuk pada tahun 2015, sebagai tanggapan terhadap munculnya fitnah, hasutan, hoaks, juga ujaran kebencian dimedia sosial kala itu.
Pada tahun 2017, MAFINDO melakukan deklarasi pendirian di beberapa wilayah Indonesia dan saat ini telah memiliki lebih dari 85 ribu anggota dalam jaringan (daring) dengan lebih dari 1.000 relawan, di 26 wilayah di Indonesia.(ADT)
