SuaraNusantara.com – Pulau Jawa, yang menjadi medan pertempuran paling sengit antara kandidat calon presiden (capres) dan partai politik, kembali menjadi fokus perhatian dalam perebutan suara di Pemilu 2024. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di Pulau Jawa mencapai 154,28 juta, atau sekitar 56 persen dari total populasi tahun 2022.
Dari jumlah penduduk ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan sebanyak 204,8 juta daftar pemilih tetap (DPT), dengan 56,3 persen atau 115,37 juta merupakan pemilih yang tinggal di Pulau Jawa. Sejarah Pemilu 2019 mencatat Pulau Jawa sebagai battleground yang sengit antara pendukung Prabowo Subianto – Sandiaga Uno dan Joko Widodo – Ma’ruf Amin.
Menariknya, Prabowo-Sandi berhasil menguasai Pulau Jawa bagian Barat, kecuali DKI Jakarta, sementara Jokowi-Amin dominan di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Pencapaian suara Jokowi di ketiga provinsi ini menjadi kunci kemenangan pada Pilpres 2019.
Pemilu 2024 menunjukkan Prabowo-Gibran masih mendominasi sebagian besar lembaga survei, dengan tingkat elektabilitas di atas 40 persen. Meskipun demikian, survei menunjukkan dinamika yang menarik, terutama di Jawa Tengah, di mana Ganjar Pranowo-Mahfud MD berhasil meraih elektabilitas lebih tinggi dibandingkan Prabowo-Gibran. Hasil survei menunjukkan elektabilitas Prabowo-Gibran hanya mencapai 36,4 persen, sementara Ganjar Pranowo-Mahfud MD mencapai 43,5 persen.
Meski demikian, Prabowo-Gibran tetap mendominasi elektabilitas di hampir semua provinsi di Pulau Jawa. “Jakarta-Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur mencatat tingkat keterpilihan yang signifikan bagi pasangan nomor urut 2,” ungkap sumber survei. Sementara itu, elektabilitas Ganjar Pranowo di Jawa Tengah mengalami penurunan, meskipun tetap mendominasi.
“Dengan tren elektabilitas yang terus berubah, Pulau Jawa menjadi sorotan dalam persaingan Pemilu 2024, dan dinamika politik di wilayah ini berpotensi memengaruhi hasil akhir pemilihan.”
