Kumpul di UNJ, Aktivis 98 Garis Lurus Tegas Sampaikan Demokrasi Indonesia Melenceng dari Cita-cita Reformasi

Aktivis 98

Aktivis 98

Suaranusantara.com- Menjelang peringatan reformasi pada bulan Mei mendatang, muncul sebuah kelompok aktivis yang dikenal sebagai “Aktivis 98 Garis Lurus”.

Mereka kelompok yang tetap setia pada prinsip-prinsip reformasi tahun 1998 dan berkomitmen untuk terus memperjuangkan cita-cita yang diamanatkan oleh gerakan tersebut.

“Saya kira, teman-teman 98 yang masih on the track dan berada di garis lurus, akan bersikap. Karena yang terjadi hari ini tidak seperti yang dicitakcitakan pada tahun 1998” ujar Aktivis 98, Ubedillah Badrun dalam acara Mimbar Rakyat dan Silaturhmi Akbar di Kampus Universitas Negeri Jakarta, Sabtu 26 April 2024.

Ia kemudian miris melihat cita-cita reformasi yang diniali jauh dari yang diharapkan, mulai dari KKN hingga meningkatnya pelanggar HAM.

“Kemudian kita ingin memiliki pemerintahan clean and clear, good goverment, sebagai cita-cita hebat bangsa ini, tapi saat ini realitasnya terbalik” ucapnya

Lalu, Ubedillah juga singgung terkait dengan Pilpres 2024. Ia tegas sampaikan jika Indonesia mengalami kemunduran demokrasi karena presiden terpilih yakni pelanggar HAM dan wakli presiden yang dilahirkan melalui KKN.

“Pelaku Pelanggar HAM berat jadi Presiden, ini kan problem. Kemudian pelaku KKN jadi wakil presiden. Demokrasi mengalami kemunduran, korupsi, kolusi dan nepotisme banyak terjadi. Ini jauh dari cita-cita reformasi kita,” beber Ubedilah Badrun.

“Karena itu, teman-teman 98 ingin mengingatkan dan membangun kesadaran kolektif bahwa bangsa ini sedang mengalami kemunduran demokrasi seperti 26 tahun silam,” tambahnya.

Untuk diketahui, acara itu juga membacakan sikap yang tertuang dalam Maklumat Bersama Aktivis 98 yang dibacakan, mereka menyoroti situas nasional yang dinilai telah melenceng dari cita-cita reformasi.

Salah satu isu yang mereka soroti adalah soal bangkitnya kembali masa orde baru, menolak dinasti politik lalu menolak pelangga HAM.

Tidak hanya itu, mereka juga kembali singgung soal Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang terus menjadi momok bagi bangsa ini. Dan terakhir, menolak dwi fungsi TNI-Polri.

Salah satu aktivis 98 yang hadir dalam acara tersebut yakni, Mustar Bonaventura, Antonius Danar Priyantoro, Petrus Bima Anugrah, Ubedilah Badrun, Yusuf Blegur, Ignatius Indro dan sejumlah aktivis lainnya.

Selain di isi dengan acara musik dan orasi kebangsaan, acara tersebut diakhiri dengan menonton film dokumenter peristiwa pada tahun 1998.

Exit mobile version