Duet Anies Sohibul Iman di Pilgub Jakarta 2024, Pengamat: Berpotensi Bubar

Duet Anies Sohibul Iman di Pilgub Jakarta 2024 (instagram @bizlaw.id)

Duet Anies Sohibul Iman di Pilgub Jakarta 2024 (instagram @bizlaw.id)

Suaranusantara.com- Anies Sohibul Iman telah resmi diduetkan oleh PKS untuk maju di Pilgub Jakarta 2024 pada Selasa 25 Juni 2024 lalu.

Berbagi pihak pun menanggapi atas duet Anies Sohibul Iman di Pilgub Jakarta, salah satunya pengamat politik dari Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini.

Didik menilai Anies memang memiliki elektabilitas tinggi di Jakarta.

Kendati demikian, langkah PKS yang menduetkan Anies Sohibul Iman ini telah mendahului NasDem dan PKB.

Karena kedua partai politik itu punya niat juga untuk mengusung dan mengajukan kadernya berduet dengan eks Gubernur Jakarta itu.

“PKS dalam hal ini bergerak lebih awal dengan semangat merebut lebih dahulu ketimbang Nasdem dan PKB yang sudah berniat semi terbuka untuk mencalonkannya,” kata Didik pada Jumat 28 Juni 2024.

Melihat hal ini, menurut Didik keputusan PKS menduetkan Anies Sohibul Iman di Pilgub Jakarta 2024 masih dinamis terlebih belum terdaftar di KPU.

Dan ini merupakak ciri politi Indonesia yang tak memiliki ideologi apa pun.

“Sebelum penetapan resmi KPUD, siapa pun bakal calon di Pilkada ini masih bisa berubah total terbalik dari rencana semula. Ini ciri politik Indonesia yang sama sekali tidak memiliki ideologi apa pun, kecuali transaksional belaka,” kata Didik lagi.

Memang suara PKS di Jakarta tinggi dibanding partai politik lainnya, namun kata Didik PKS tentu masih membutuhkan koalisi mengingat hanya meraih 18 kursi saja.

Sementara untuk bisa mengusung sendiri syaratnya harus 22 kursi, itu artinya PKS harus berkoalisi dengan partai lain untuk mengusung Anies di Pilgub Jakarta 2024.

“PKS paling sukses dan paling tinggi perolehan suaranya di Jakarta. Tetapi untuk urusan pencalonan gubernur tidak bisa sendiri sehingga memerlukan kawan partai lain. Nasdem dan PKB tentu tidak bisa menelan begitu saja semacam “corporate action” ini. Lobi akan terus berlangsung dengan interest yang pasti kuat dari partai-partai lainnya,” ujarnya.

Dan melihat hal ini, menurut pandangannya, duet Anies Sohibul.Iman bisa berpotensi bubar, apabila ada lobi-lobi yang intensif dilakukan oleh partai-partai lainnya.

“Pasangan AMAN bisa bubar karena proses lobi yang intensif, atraktif bahkan liar tetapi Anies akan menjadi rebutan sehingga menjadi calon paling potensial jadi, kecuali ada konspirasi kekuatan jahil untuk meruntuhkannya,” ujar Didik.

Maka ini bisa jadi momentum Ridwan Kamil jika memang maju di Pilgub Jakarta 2024.

“Ridwan Kamil akan mengambil peluang ini dan keberuntungan untuk tahun 2029. Jadi Pilkada DKJ ini sangat jelas berhubungan langsung dengan politik 2029, khususnya pilpres,” pungkasnya.

*

Exit mobile version