Suaranusantara.com- Warga Indonesia bersiap-siaplah bagi yang mengonsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi yakni Pertamax. Hal ini dikarenakan harga Pertamax bakal bisa melejit signifikan.
PT Pertamina Patra Niaga mengatakan kenaikan harga Pertamax mengikuti tren minyak dunia. Apabila minyak dunia mengalami kenaikan, otomatis Pertamina turut menyesuaikan, begitu pula sebaliknya.
Pertamax, diramalkan Pertamina bisa kembali mengalami kenaikan tinggi. Hal ini dikarenakan perang Amerika Serikat (AS) vs Iran belum juga mereda, malah semakin memanas dan berpengaruh pada Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi jalur krusial lantaran merupakan jalur penyaluran energi dunia. Menurut Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto, perang AS vs Iran lebih parah dibanding Ukraina vs Rusia.
“Katanya hari ini harga dunia, BBM juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun US$ 70 per barel atau US$ 60 per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera,” ujarnya dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, dikutip Senin 14 September 2026.
Eko menjelaskan tren harga minyak dunia terpantau masih tinggi, bahkan tidak menunjukan tanda-tanda penurunan.
Hal ini bakal berpengaruh pada harga Pertamax yang nantinya bisa mencapai Rp.18.000 sampai Rp.20.000 per liternya.
“Karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp 18-20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” beber Eko.
Sebelumnya, perang antara Amerika Serikat (AS) yang kembali memanas dengan Iran membuat harga minyak dunia melonjak.
Pada perdagangan hari Kamis saja sempat tembus US$ 108 per barel. Ini merupakan pertama kalinya harga minyak dunia setinggi ini sejak Mei 2026.
Harga minyak sudah naik lagi di atas US$ 100 per barel minggu ini seiring dengan meningkatnya pertempuran di Selat Hormuz dan Laut Merah.
AS dan Iran saling melancarkan serangan, sementara Houthi yang didukung Iran menyerang Arab Saudi dan memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab.
Kondisi ini membuat para pedagang memborong banyak minyak mentah untuk bersiap menghadapi gangguan pasokan yang lebih berkepanjangan, secara otomatis membuat harga komoditas energi yang satu ini terkerek.
