Dialog dengan Gen Z, AHY Tekankan Infrastruktur Inklusif

Kegiatan Buka Puasa Bersama Menko bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, dengan Gen Z Jakarta. (Foto: Istimewa)

Kegiatan Buka Puasa Bersama Menko bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, dengan Gen Z Jakarta. (Foto: Istimewa)

Suaranusantara.com – Aspirasi generasi muda menjadi perhatian dalam pembangunan kota masa depan. Hal itu mengemuka dalam dialog bersama generasi Z di Cipayung, Jakarta Timur.

Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta, Mujiyono, menilai Jakarta sebagai kota global membutuhkan lebih banyak ruang kreatif dan fasilitas publik yang ramah bagi generasi muda.

Menurutnya, aspirasi anak muda perlu menjadi bagian penting dalam perencanaan pembangunan kota, terutama dalam penyediaan ruang berkegiatan, fasilitas pendidikan, serta ruang publik yang mendorong kreativitas.

“Jakarta membutuhkan lebih banyak ruang kreatif dan fasilitas publik yang mendukung aktivitas generasi muda. Aspirasi anak-anak muda harus menjadi bagian penting dalam perencanaan pembangunan kota,” ujar Mujiyono.

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Demokrat, Andika Wisnuadji Putra Soebroto, mengatakan kegiatan dialog tersebut menjadi ruang komunikasi antara generasi muda dengan para pemimpin.

Menurutnya, generasi muda perlu diberikan ruang untuk menyampaikan ide, gagasan, serta kritik secara terbuka agar dapat berkontribusi dalam pembangunan.

“Generasi muda hari ini membutuhkan ruang dialog yang terbuka dengan para pemimpin. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan komunikasi yang lebih dekat, santai, tetapi tetap substansial,” kata Andika.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menegaskan pembangunan kota modern tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga harus memberi ruang bagi generasi muda untuk berkembang.

Ia juga menekankan bahwa kota yang menuju level global tetap harus menjaga identitas dan karakter lokalnya.

“Bolehlah kotanya global, tetapi tetap harus punya akar yang kuat pada karakteristik dan keunikan lokal. Jadi global, tapi tetap kuat pada identitas Indonesia maupun daerah kita,” ujarnya.

Exit mobile version