Menuju Kota Global 2030, Pemprov DKI Andalkan SDM dan Layanan Air Bersih

Diskusi "Akselerasi Pembangunan Jakarta Menuju Kota Global" di Balai Kota DKI Jakarta. (Dok: Istimewa)

Diskusi "Akselerasi Pembangunan Jakarta Menuju Kota Global" di Balai Kota DKI Jakarta. (Dok: Istimewa)

Suaranusantara.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat berbagai sektor untuk mewujudkan target masuk 50 besar kota global pada 2030. Pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan layanan dasar, termasuk akses air bersih, menjadi fokus utama dalam mendukung daya saing Jakarta di tingkat internasional.

Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, mengatakan Jakarta kini tidak lagi bersaing dengan daerah lain di Indonesia, melainkan dengan kota-kota besar dunia. Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan melalui berbagai program bantuan menjadi salah satu prioritas pemerintah.

“Jakarta kini tidak lagi bersaing dengan kota-kota lain di Indonesia, melainkan harus mampu bersaing dengan kota-kota besar dunia,” kata Chico dalam diskusi Sersan (Serius Tapi Santai) Aktivis Jakarta bertema Akselerasi Pembangunan Jakarta Menuju Kota Global di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (10/7).

Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, menyampaikan cakupan layanan air minum perpipaan di Jakarta telah mencapai 82 persen. Capaian tersebut setara dengan sekitar 1,2 juta sambungan rumah atau hampir sembilan juta penduduk yang telah menikmati layanan air bersih.

 Menurut Arief, peningkatan layanan air bersih tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui percepatan perizinan dan penguatan regulasi. Sinergi tersebut dinilai mempercepat pembangunan jaringan perpipaan di berbagai wilayah.

“Ketika dukungannya bukan hanya sekadar dukungan bicara, tetapi juga dukungan aturan dan berbagai bentuk dukungan lainnya, akhirnya semangatnya menjadi sama,” ujar Arief.

Arief optimistis kolaborasi antara PAM Jaya dan Pemprov DKI Jakarta mampu mempercepat pencapaian target layanan air bersih bagi seluruh warga. Saat ini, cakupan layanan telah mencapai 82 persen dengan jumlah penerima manfaat mendekati sembilan juta jiwa.

Sementara itu, Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto, menilai status kota global tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik. Menurutnya, kualitas layanan air bersih, sanitasi, transportasi, lingkungan, inovasi, dan sumber daya manusia menjadi indikator penting dalam penilaian kota global.

“Persoalan kota global bukan hanya soal gedung-gedung tinggi atau pembangunan fisik, tetapi mencakup banyak aspek yang saling berkaitan. Seluruh organisasi perangkat daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas, hingga masyarakat harus bergerak bersama,” kata Sugiyanto.

Exit mobile version