Kabupaten Pandeglang – Selain potensi tsunami akibat gempa berkekuatan 7,4 yang berpusat di Sumur, kepanikan warga yang tinggal di pinggir pantai Pandeglang bertambah karena aliran listrik yang padam.
Sejumlah wilayah yang mengalami listrik pada saat gempa di antaranya Mekarsari, Citeureup dan Tanjung Jaya.
“Pada saat gempa warga sangat panik. Situasi semakin panik karena mati lampu,” kata Camat Panimbang, Suaedi Kurdiatna.
Warga yang panik mengungsi ke tempat yang dirasa aman dari terjangan tsunami seperti Angsana dan Sobang. Sementara, warga Desa Tanjung Jaya mengungsi ke gunung dan ke bukit-bukit seperti wilayah Cikadu.
“Kalau tamu (hotel) di Tanjung Lesung mereka mengungsi ke Cikadu. Tamunya banyak sih enggak, paling ada sekitar 20 orang lebih lah,” ucapnya.
Setelah peringatan dini tsunami dicabut, sebagian warga memang sudah kembali ke rumah, namun ada pula yang masih memilih bertahan di pengungsian.
“Kerusakan belum banyak terdata. Yang sudah masuk ke saya baru tiga rumah. Tapi enggak ada yang ambruk, rusak ringan dan ada satu ponpes gentengnya berjatuhan di Ciseukut,” ujarnya.
Ia mengimbau warga tetap waspada dan tidak terprovokasi informasi yang tidak dapat dipercaya kebenarannya.
“Karena sudah dicabut potensi tsunaminya ya dibolehkan pulang. Tapi tetap waspada jangan terprovokasi berita-berita hoax di medsos,” imbaunya.
Sementara, Camat Saketi Hasan Basri menyebut, kerusakan rumah warga yang sebelumnya terdapat dua rumah bertambah menjadi lima unit.
“Dua rumah di Desa Medalsari, tiga di Girijaya dengan rusak ringan,” katanya.(aep/and)
