
Jakarta-SuaraNusantara
Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengungkapkan, revitalisasi pabrik gula membutuhkan dana besar, diperkirakan mencapai Rp. 8 triliun.
“Pabrik gula milik BUMN sudah seharusnya direvitalisasi, hanya saja butuh dana besar untuk melakukannya,” ujarnya di Jakarta, beberapa saat lalu.
Lebih lanjut, kata Panggah, untuk produksi gula rafinasi diperlukan teknologi karbonasi, sedangkan teknologi yang dimiliki pabrik gula saat ini adalah teknologi lama yang menggunakan sistem solutasi. “Kebutuhan gula rafinasi akan meningkat seiring dengan pertumbuhan industri makanan dan minuman,” jelasnya.
Panggah juga menyatakan, untuk pembelian mesin dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) 25 persen ke atas, akan mendapatkan tambahan anggaran sebesar 10 persen. Jika pabrik gula membeli mesin baru dari dalam negeri, Kemenperin memberikan alokasi dana sekitar 22,5 persen.
“Mesin untuk produksi gula sebagian besar sudah dipenuhi dari dalam negeri, hanya turbin yang masih impor dari India,” imbuhnya.
Panggah optimistis, adanya revitalisasi pabrik, produksi gula bisa meningkat sehingga mampu memenuhi target swasembada gula. Dia mengakui selama ini gairah untuk revitalisasi dari manajemen pabrik gula masih perlu didorong.
Penulis: Yono