Suaranusantara.com- Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat pagi, 10 April 2026, menunjukkan penguatan terbatas di tengah tekanan global yang masih kuat.
Mengacu pada data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.087 per dolar AS pada pukul 09.06 WIB, atau naik tipis 3 poin dibandingkan posisi sebelumnya. Di sisi lain, indeks dolar AS justru mengalami kenaikan ke level 98,8.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan perdagangan sehari sebelumnya. Pada Kamis, 9 April 2026, rupiah sempat melemah cukup signifikan hingga 90 poin dan ditutup di level Rp 17.092 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia lainnya. Faktor utama yang memengaruhi pergerakan ini adalah dinamika geopolitik, terutama rencana pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump menyampaikan optimismenya terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai. Sinyal tersebut memberikan harapan di pasar, meskipun situasi masih dinilai belum sepenuhnya stabil.
Di sisi lain, laporan menyebutkan bahwa delegasi Iran telah tiba di Islamabad, Pakistan, untuk mengikuti pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.
Analis senior dari NAB, Rodrigo Catril, menilai bahwa fokus pasar saat ini tertuju pada pertemuan tersebut yang dinilai akan menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya.
“Semua perhatian tertuju pada pembicaraan akhir pekan antara AS dan Iran di Pakistan,” ujar Rodrigo Catril.
Sementara itu, dolar AS terus menunjukkan penguatan terhadap mata uang utama Asia. Berdasarkan data FactSet, dolar menguat terhadap yen Jepang hingga mencapai 159,22, serta naik terhadap won Korea Selatan ke level 1.477,73.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan eksternal, khususnya hasil negosiasi antara AS dan Iran.


















Discussion about this post