Suaranusantara.com- Rupiah kembali menunjukkan tren penguatan di awal pekan, Senin (26/5/2025), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan menunda kebijakan tarif impor terhadap Uni Eropa. Di tengah ketidakpastian global, keputusan ini membawa angin segar bagi pasar keuangan, termasuk pasar mata uang di Indonesia.
Berdasarkan data dari Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 54 poin atau sekitar 0,33%, menyentuh level Rp 16.163,5 per dolar AS. Penguatan ini melanjutkan tren positif dari perdagangan Jumat sebelumnya (23/5/2025), di mana rupiah berhasil terapresiasi 110 poin ke angka Rp 16.217,5 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS turut melemah 0,37 poin menjadi 98,7, menunjukkan sentimen pasar yang mulai berbalik dari aset-aset safe haven. Dalam waktu yang bersamaan, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun justru mengalami kenaikan, mencapai 4,51%, menandakan adanya pergerakan dana investor ke instrumen pendapatan tetap.
Penundaan tarif impor sebesar 50% terhadap Uni Eropa yang semula akan diberlakukan mulai 1 Juni, kini dijadwalkan ulang ke 9 Juli 2025. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Trump pada Minggu (25/5/2025), usai percakapan via telepon dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Dalam pembicaraan tersebut, von der Leyen disebut meminta tambahan waktu untuk mencapai kesepakatan dagang antara kedua belah pihak.
Langkah penundaan ini terjadi hanya dua hari setelah ancaman tarif diumumkan, menggambarkan betapa dinamisnya kebijakan perdagangan yang diambil pemerintahan Trump. Meski sempat mengguncang sentimen global, kabar ini justru dianggap pasar sebagai peluang tercapainya perjanjian yang lebih konstruktif.
Ray Attrill, Kepala Riset Valas di National Australia Bank, menyebut bahwa pelaku pasar tampaknya meyakini konflik tarif antara AS dan Uni Eropa tidak akan memuncak. Namun, ia juga menekankan bahwa ketidakpastian terkait proses negosiasi dagang tetap menjadi perhatian utama, terlebih jika proyeksi pertumbuhan global kembali memburuk.
Di sisi lain, ancaman tarif terhadap produk teknologi seperti iPhone yang diproduksi di luar AS masih belum dicabut. Isu ini sempat memicu kekhawatiran di kalangan investor pada Jumat lalu dan bisa menjadi potensi risiko baru dalam beberapa pekan ke depan.
Belum selesai dengan isu dagang, Trump juga menyinggung kemungkinan revisi besar terhadap Rancangan Undang-Undang belanja dan pemangkasan pajak yang tengah dibahas di Senat. Menurut proyeksi Kantor Anggaran Kongres AS (CBO), versi RUU yang telah lolos di DPR berpotensi menambah utang pemerintah federal hingga US$ 3,8 triliun dalam sepuluh tahun, di atas total utang yang kini telah mencapai US$ 36,2 triliun.
Meski pasar sempat dihantui ketidakpastian, arah kebijakan terbaru dari Washington membuka ruang bagi perbaikan kepercayaan investor. Untuk sementara, rupiah berhasil mengambil peluang dari dinamika global ini, namun stabilitas jangka panjang tetap sangat bergantung pada arah kebijakan lanjutan dari Negeri Paman Sam.
