Suaranusantara.com- Rupiah bangkit di tengah lesunya dolar Amerika Serikat. Perkembangan hubungan dagang internasional dan spekulasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS ikut menciptakan iklim yang mendukung penguatan rupiah.
Kinerja mata uang Garuda ini berbanding terbalik dari hari sebelumnya, di mana rupiah sempat terkoreksi cukup tajam sebesar 47 poin ke angka Rp 16.247 per dolar AS.
Kembalinya kekuatan rupiah didorong oleh berita menggembirakan dari kawasan Asia, yakni tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Vietnam yang menumbuhkan harapan terhadap perjanjian serupa dengan negara-negara lain.
Sementara itu, indeks dolar sendiri terlihat masih berada di tren pelemahan, hanya menguat tipis sebesar 0,01 poin ke posisi 96,7. Indeks ini bahkan mendekati titik terendah dalam tiga setengah tahun terakhir dan diprediksi bakal mencatat penurunan mingguan sebesar 0,5 persen.
Sentimen pasar kini mulai bergeser ke arah ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, terlebih setelah laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan penurunan tenaga kerja sektor swasta yang tak terduga.
Di pasar global, poundsterling juga sempat menguat menyusul pernyataan dukungan dari PM Inggris Keir Starmer terhadap kebijakan fiskal Menteri Keuangan Rachel Reeves, setelah sebelumnya sempat melemah akibat isu reformasi kesejahteraan.
Sementara itu, fokus utama investor kini tertuju pada laporan tenaga kerja AS untuk bulan Juni yang akan dirilis menjelang libur Hari Kemerdekaan AS. Data ini sangat dinanti karena bisa memberikan sinyal kuat soal arah kebijakan suku bunga bank sentral AS ke depan.
