Suaranusantara.com- Manajemen PT Bukit Uluwatu Villa Tbk bersiap menggelar rapat pemegang saham luar biasa pada Kamis, 26 Februari 2026. Agenda utama pertemuan tersebut adalah meminta persetujuan pemegang saham terkait rencana penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu dalam skala sangat besar.
Berdasarkan dokumen keterbukaan informasi tambahan yang dirilis pada 24 Februari 2026, perseroan merancang penerbitan saham baru hingga puluhan miliar lembar.
Jika seluruh rencana tersebut dieksekusi penuh, jumlah saham yang dilepas ke publik bisa melampaui dua kali lipat dari saham yang saat ini beredar di pasar. Aksi ini akan berasal dari saham simpanan perusahaan yang selama ini belum dikeluarkan.
Manajemen menyiapkan nominal per saham pada level yang telah ditentukan dalam anggaran dasar, sehingga secara total nilai emisi berpotensi menambah porsi modal ditempatkan dan disetor secara signifikan. Dengan langkah ini, struktur permodalan perusahaan diproyeksikan berubah drastis, sekaligus membuka ruang masuknya dana segar untuk memperkuat neraca keuangan.
Sebelum rencana penambahan modal tersebut dijalankan, perseroan tercatat memiliki puluhan miliar saham yang sudah ditempatkan dan disetor penuh. Sementara itu, cadangan saham yang belum diterbitkan masih sangat besar, sehingga memungkinkan perusahaan melakukan ekspansi kepemilikan saham beredar melalui rights issue dalam skala jumbo.
Rencana korporasi ini pun langsung menyita perhatian pelaku pasar. Investor menilai langkah tersebut dapat berdampak pada dilusi kepemilikan, namun di sisi lain membuka peluang perusahaan memperkuat permodalan untuk mendukung pengembangan bisnis ke depan.
Setelah rights issue, modal yang ditempatkan dan disetor penuh pada BUVA menjadi sebanyak 74,61 miliar saham dengan nilai nominal Rp 3,73 triliun. Saham portepelnya menjadi 382,94 juta dengan nilai Rp 19,14 miliar.
Manajemen BUVA menjelaskan, rights issue tersebut dilakukan untuk memperkuat struktur permodalan, sehingga memberikan perseroan tambahan dana untuk mendukung kinerja.
Apabila pemegang saham tidak melaksanakan hak memesan efek terlebih dahulu yang dimiliki olehnya dalam PMHMETD II, maka kepemilikan pemegang saham tersebut akan terkena dilusi dengan persentase maksimum sebesar 67,01% dari jumlah kepemilikan sahamnya di perseroan.
Pelaksanaan PMHMETD II diperkirakan manajemen BUVA akan memberikan dampak positif terhadap pos-pos laporan keuangan perseroan.
“Dampak tersebut antara lain berupa peningkatan nilai modal saham pada bagian ekuitas serta bertambahnya saldo kas dan setara kas pada kelompok aset lancar,” tulis manajemen BUVA dalam prospektus.
Dari perspektif rasio keuangan, rights issue ini juga diproyeksikan menghasilkan peningkatan yang signifikan pada rasio pertumbuhan aset dan rasio pertumbuhan ekuitas.
“Selain itu, rasio lancar serta rasio utang terhadap aset perseroan diperkirakan akan menunjukkan hasil yang lebih baik selaras dengan pelaksanaan aksi korporasi tersebut,” ungkapnya.
Seluruh dana hasil rights issue, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan oleh BUVA untuk keperluan belanja modal berupa pembelian lahan, pengembangan aset serta usaha, pengambilalihan perusahaan yang memiliki nilai strategis bagi pengembangan usaha, serta mewujudkan pertumbuhan anorganik perseroan dan/atau untuk pembayaran atas kewajiban perseroan dan/atau anak usaha.
“Informasi final sehubungan dengan penggunaan dana akan diungkapkan dalam prospektus yang diterbitkan dalam rangka PMHMETD II yang akan disediakan kepada pemegang saham yang berhak pada waktunya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” katanya.
Berikut jadwal rangkaian aksi rights issue BUVA.
Pemanggilan RUPSLB : 4 Februari 2026
Pengumuman Perubahan dan/atau Tambahan Keterbukaan Informasi terkait rencana PMHMETD II : 24 Februari 2026
RUPSLB : 26 Februari 2026
Pengumuman ringkasan risalah RUPSLB : 2 Maret 2026
Penyampaian risalah RUPSLB kepada OJK dan BEI : 28 Maret 2026
