
Jakarta-SuaraNusantara
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati meminta masyarakat mewaspadai naiknya impor barang-barang konsumsi, karena hal itu menjadi tanda turunnya daya saing produk dalam negeri.
“Alasan pemerintah yang menyebut impor naik lantaran persiapan menyambut Ramadhan dan Lebaran,tidak tepat karena barang yang masuk tidak berkorelasi dengan kebutuhan untuk menjaga stabilitas harga, terutama sektor pangan selama Lebaran dan Ramadhan yang jadi fokus pemerintah,” kata Enny, di Jakarta, Selasa (25/4/2017).
Dia menilai maraknya barang konsumsi impor masuk ke tanah air berbahaya lantaran pada saat bersamaan, kinerja industri dalam negeri sedang menunjukkan indikasi penurunan.
“Pernyataan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perdagangan, yang menyebut kenaikan impor positif lantaran disokong kenaikan impor bahan baku juga kurang pas. Pasalnya, impor bahan baku, bahan penolong, juga masih sedikit,” tutur Enny.
Dia menegaskan, kenaikan impor bukan berita bagus. Kalaupun ada kenaikan impor seperti peralatan mesin, peralatan listrik, hingga besi dan baja, memang bisa dikaitkan dengan menggeliatnya infrastruktur. Tetapi, tetap saja, kenaikan impor itu dinikmati oleh negara lain karena menggerogoti devisa.
“Ujungnya juga menghantam industri dalam negeri nasional, yang menikmati bukan perekonomian domestik. Sementara dampak infrastruktur juga belum ketahuan seperti apa lantaran yang dibangun jalan tol bukan jalur kereta api,” kata Enny.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat nilai impor non migas pada Maret 2017 naik 24,94 persen menjadi USD 11,10 miliar dibanding bulan sebelumnya USD 8,88 miliar. Kenaikan terbesar berasal dari impor ponsel, plastik sampai kapal laut. Impor sebesar USD 13,36 miliar pada Maret merupakan nilai impor bulanan tertinggi sejak Januari 2015.
Penulis: Yon K