Hadapi Situasi Ekonomi 2025, UOB Indonesia Berikan Tips Pengelolaan Keuangan yang Sehat

Vera Margaret, Head of Deposit dan Wealth Management UOB memberikan tips untuk menghadapi keuangan di tahun 2025 (Suaranusantara.com/GN)

Vera Margaret, Head of Deposit dan Wealth Management UOB memberikan tips untuk menghadapi keuangan di tahun 2025 (Suaranusantara.com/GN)

Suaranusantara.com – Menggelar acara Media Gathering UOB dengan tema “Strategi Finansial di Tengah Tantangan Ekonomi” di Jakarta, Jumat, 24 Januari 2025.

UOB Indonesia berbagi tips untuk menghadapi keuangan di tahun 2025 yang diliputi dengan ketidakpastian ekonomi.

Dalam acara tersebut, UOB memandang perlunya kewaspadaan dan perencanaan yang matang dengan menjaga disiplin, melakukan penyesuaian sesuai perubahan ekonomi, dan menempatkan dana di instrumen yang tepat.

Vera Margaret, Head of Deposit dan Wealth Management UOB, mengungkapkan bahwa Indonesia menghadapi berbagai tantangan ekonomi di tahun 2025 akibat ketidakpastian global.

“Selain disiplin menabung, ada tips lain dalam perencanaan keuangan bagi masyarakat, yakni ketika pendapatan naik, gaya hidup diusahakan tidak ikut naik. Masyarakat juga sebaiknya mencatat pengeluaran selama satu atau dua bulan, untuk mengetahui spending habits,” kata Vera

Kondisi ini mencerminkan masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat.

Sebagai salah satu institusi keuangan, UOB berperan penting dalam membantu meningkatkan tingkat literasi serta inklusi keuangan masyarakat.

“UOB memberikan literasi keuangan termasuk bagaimana cara mengatur pengeluaran, mengelola tabungan, dan mempertimbangkan investasi”, katanya.

Sehingga menciptakan kondisi keuangan yang baik, meskipun dihadapkan pada tren gaya hidup yang konsumtif.

“Memasuki tahun 2025, banyak tantangan ekonomi yang saat ini kita hadapi, di antaranya peningkatan inflasi, degradasi kelas menengah, melemahnya nilai tukar rupiah, hingga suku bunga The Fed,” ungkap Vera.

Dalam paparannya, Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga di kisaran 5,25–5,5% untuk mengatasi inflasi global. Hal ini menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah yang turun hingga Rp15.800 di akhir 2024, ujarnya.

Exit mobile version