
Jakarta-SuaraNusantara
Kaisar Jepang Akihito memutuskan untuk turun tahta pada April 2019. Kaisar berusia 83 tahun itu mengatakan usia dan kesehatannya menyulitkan untuk memenuhi tugasnya.
Perdana Menteri Shinzo Abe, anggota parlemen, dan anggota keluarga Kerajaan Jepang, pada Jumat 1 Desember 2017 mengumumkan rencana pengunduran diri kaisar yang akan dilakukan pada tanggal 30 April 2019. Demikian seperti dikutip dari BBC pada Jumat (1/12/2017).
Rencana pengunduran diri Kaisar Jepang ini merupakan yang pertama terjadi di negeri Sakura itu sejak 1817. Biasanya, Kaisar Jepang baru digantikan oleh penerusnya, bila meninggal dunia.
Setelah mengundurkan diri, tahta kekaisaran akan diserahkan ke putra sulungnya, Pangeran Naruhito yang kini berusia 57 tahun.
Menurut sumber di pemerintahan, upacara turun takhta pertama dalam sejarah kekaisaran Jepang terjadi pada abad ke-VIII dan terakhir dilakukan oleh Kaisar Kokaku, 200 tahun silam. Dalam seremonial tersebut, seorang petugas akan membacakan sebuah pesan dari kaisar yang mundur.
Kaisar Akihito sendiri mengisyaratkan keinginannya untuk mundur dalam pidato publik yang dianggap “langka” pada Agustus 2016. Saat itu ia mengatakan bahwa ia khawatir usia dan kesehatannya suatu hari mengharuskannya berhenti menjalankan tugas-tugas kekaisaran.
Akihito naik ke tampuk kekuasaan pada November 1990 setelah sang ayah, Kaisar Hirohito, mangkat pada 7 Januari 1989. Upacara penobatannya dihadiri lebih dari 2000 tamu, termasuk pemimpin asing dan tergolong dalam acara kenegaraan.
Setelah Akihito mengisyaratkan segera turun takhta karena usia senja, Putra Mahkota Pangeran Naruhito menyatakan dirinya siap menggantikan sang ayah.
“Saya bersedia sepenuh jiwa dan raga untuk mengemban tugas kenegaraan yang akan diwariskan oleh Yang Mulia,” kata Pangeran Naruhito.
Penulis: Yon