Suaranusantara.com- Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan udara Israel menghantam wilayah Lebanon selatan. Insiden ini terjadi saat gencatan senjata masih diberlakukan, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Serangan tersebut dilaporkan terjadi di kota Jibchit, dengan target sebuah rumah milik keluarga Bahja di area al-Jabal. Informasi ini disampaikan oleh kantor berita Lebanon, National News Agency (NNA).
Bangunan yang menjadi sasaran dilaporkan hancur total akibat serangan, dan lima orang yang berada di dalamnya tewas. Seluruh korban merupakan anggota keluarga yang sama.
Identitas korban mencakup Mohammad Jawab Bahja dan istrinya Lotfiya, serta Amani Jaber bersama dua anaknya, Mariam Hilal Bahja dan Ali al-Rida Hilal Bahja.
Tim penyelamat langsung bergerak ke lokasi untuk mengevakuasi korban dan membersihkan puing-puing. Proses evakuasi berlangsung hingga malam hari.
Serangan ini terjadi di tengah konflik yang telah berlangsung sejak awal Maret 2026. Ketegangan meningkat setelah Hizbullah meluncurkan serangan ke Israel sebagai respons atas kematian Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Israel melakukan serangan udara besar-besaran dan bahkan mengerahkan pasukan darat ke wilayah selatan Lebanon.
Data pemerintah Lebanon menunjukkan dampak yang cukup besar dari konflik ini. Ribuan orang dilaporkan meninggal dunia dan jutaan lainnya terdampak, termasuk lebih dari 1,6 juta warga yang harus mengungsi.
Meski sebelumnya telah disepakati gencatan senjata dengan mediasi Amerika Serikat, situasi di lapangan masih belum stabil. Kedua pihak bahkan saling menuding telah melanggar kesepakatan tersebut.


















Discussion about this post