Prabowo Singgung Soal Tiga Kali Kalah Pilpres: Politik Persaingan Ketat Tidak Boleh Sakit Hati, Benci dan Dendam

Presiden RI Prabowo Subianto singgung soal tiga kali kalah Pilpres saat acara Puncak Natal Nasional Tahun 2025 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta (Instagram @kabaraceh)

Presiden RI Prabowo Subianto singgung soal tiga kali kalah Pilpres saat acara Puncak Natal Nasional Tahun 2025 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta (Instagram @kabaraceh)

Suaranusantara.com- Presiden RI Prabowo Subianto menyinggung soal dirinya yang tiga kali kalah Pemilihan Presiden (Pilpres) yakni pada 2009, 2014 dan 2019.

Hal itu disampaikan Prabowo saat tengah pidato acara Puncak Natal Nasional yang digelar di Tennis Indoor Senayan, Jakarta pada Senin 5 Januari 2026.

Prabowo menyampaikan bahwa tiga kali menelan kekalahan bukan menjadi suatu masalah. Baginya itu merupakan hal biasa. Sebab, ketika sudah terjun ke dunia politik maka persaingannya keras dan ketat.

“Kalau masuk ke dalam kancah politik pasti persaingan sangat ketat. Keras, ketat, dan tidak ada masalah. Masuk lapangan bola pun persaingan sangat keras, mana ada orang yang mau kalah,” ujar Prabowo saat memberikan sambutan dalam Perayaan Natal Nasional 2025, di Jakarta, Senin 5 Januari 2026.

Kata Prabowo, walau menelan kekalahan sebanyak tiga kali, dia mengaku tidak sakit hati bahkan tak ada dendam serta benci.

“Waktu kita kalah sepak bola saja sedihnya bukan main. Aku kalah pilpres berapa kali itu, sudah lupa, tapi tidak ada masalah. Tidak boleh kita sakit hati, tidak boleh dendam, tidak boleh benci, dan itu saya. Saya berusaha untuk teguh pada pendirian itu,” sambungnya.

Prabowo menyampaikan, sikap pemaaf merupakan ajaran yang dijunjung tinggi oleh seluruh agama.

Menurutnya, nilai tersebut mengajarkan manusia untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan mengedepankan kebaikan dan persatuan

Dalam kesempatan itu, Prabowo mengutip ajaran Nasrani yang bersumber dari khotbah Yesus dalam Matius 5:39, yakni pesan tentang tidak membalas perlakuan buruk dengan tindakan serupa.

“Keluarga saya sebagian itu nasrani. Kalau ajaran nasrani yang paling pokok ya, kalau pipi kiri kita ditempeleng, kita harus kasih pipi kanan, betul ya? Karena waktu kecil saya sekolah Kristen juga. Jangan-jangan saya mengerti cerita-cerita di Bible lebih dari saudara-saudara, jangan-jangan,” ujar Prabowo.

Ia menegaskan, dalam kehidupan pribadi maupun berbangsa, dirinya selalu berupaya mencari sisi kebaikan daripada mempertajam perbedaan. Prabowo mengaku lebih memilih merangkul dan membangun persatuan ketimbang menciptakan perpecahan.

Kepala Negara juga menceritakan bahwa sikapnya yang mudah memaafkan kerap mendapat respons dari anggota keluarganya.

Menurut Prabowo, kesalahan seseorang tidak bisa terus-menerus dijadikan dasar penilaian tanpa melihat perubahan dan konteks waktu.

“Dan ini saya kira ajaran semua agama kita. Jadi saya kadang-kadang kalau di keluarga saya, beberapa saudara saya malah suka marah sama saya. Bowo kamu kenapa selalu (memaafkan)? Dia dulu begini-giniin kamu. Saya bilang, itu kan dulu. Sekarang keadaannya harus bersatu. Harus bersatu. Harus bekerja sama,” tandas Prabowo.

Exit mobile version