Di Tengah Ekonomi Tumbuh 5 Persen, Prabowo Heran Menengah ke Bawah Turun: Menyakitkan

Presiden RI Prabowo Subianto saat pidato KEM PPKF di rapat paripurna DPR, Rabu 20 Mei 2026 (Instagram @prabowo

Presiden RI Prabowo Subianto saat pidato KEM PPKF di rapat paripurna DPR, Rabu 20 Mei 2026 (Instagram @prabowo

Suaranusantara.com- Di tengah ekonomi yang bertumbuh rata-rata lima persen (5%) selama tujuh tahun terakhir ini, Presiden RI Prabowo Subianto mengaku heran lantaran masih kelas menengah mengalami penurunan.

Tak hanya kelas menengah yang turun, melainkan rakyat miskin malah bertambah banyak di saat ekonomi bertumbuh.

Prabowo menyampaikan hal itu saat pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) RAPBN 2027 dalam Rapat Paripurna ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu 20 Mei 2026.

“Saudara-saudara sekalian, 7 tahun kali 5%, 35% ekonomi kita tumbuh, tapi rakyat kita yang miskin tambah, dari 46,1% naik jadi 49,5%, 3% naiknya lebih. Kelas menengah turun, Saudara-saudara,” kata Prabowo, Rabu 20 Mei 2026.

Prabowo melihat data tersebut, ia merasa sangat sakit hati bagaikan ulu hatinya dipukul keras.

“Mungkin ini menyakitkan bagi kita, saya menerima data ini berapa minggu setelah jadi Presiden, seolah saya dipukul di ulu hati saya,” paparnya.

Data angka kemiskinan dan kelas menengah ini membuat Prabowo bertanya-tanya kepada anggota dewan hingga pakar. Prabowo merasa heran dengan angka-angka tersebut.

“Saya bertanya di hadapan majelis yang terhormat ini, saya bertanya kepada semua partai politik, semua ormas, saya bertanya kepada semua pakar-pakar dan semua guru besar. Bagaimana bisa pertumbuhan 35% tapi kelas menengah menurun? Kemiskinan meningkat,” ujar Prabowo.

Dari kajian dewan pakar ini, Prabowo meyakini sistem ekonomi yang berjalan saat ini tidak di jalur yang tepat.

“Saudara-saudara, jawaban harus ilmiah, jawaban harus matematis, dan menurut saya jawaban adalah bahwa kemungkinan besar, bukan kemungkinan, saya yakin sistem perekonomian yang kita jalankan berada pada trajectory yang tidak tepat,” kata Prabowo.

Dia pun membandingkan dengan negara-negara lainnya. Menurutnya, perbedaan terjadi karena sistem ekonomi dan dia menilai jika sistem ekonomi ini terus dijalankan, Indonesia akan menjadi negara sulit makmur.

“Mungkin perbedaan kita dengan negara-negara seperti Meksiko, seperti India, Filipina, dan lain sebagainya adalah perbedaan sistemik. Kita harus lihat fakta, fakta yang kalau kita teruskan seperti ini, kalau kita teruskan sistem seperti ini untuk sekian tahun lagi, saya yakin bahwa tidak mungkin kita jadi bangsa yang makmur,” sebut Prabowo.

Exit mobile version