Pemerintah Wanti-wanti, Pertamax Cs Bakal Naik Lagi Ikuti Harga Minyak Dunia

Pertamax bakal melejit sampai Rp 18-20 ribu (Instagram @info.baleendah)

Pertamax bakal melejit sampai Rp 18-20 ribu (Instagram @info.baleendah)

Suaranusantara.com- Pemerintah melalui Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi seperti Pertamax Cs bakal kembali naik.

Kenaikan harga Pertamax lantaran mengikuti harga minyak dunia yang kini tengah melambung tinggi imbas memanasnya geopolitik Timur Tengah yang belum mereda.

Sementara itu, untuk harga BBM Subsidi seperti Pertalite dan Solar dipastikan akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026 mendatang.

“Jadi kalau untuk Pertalite yang disampaikan sama Pak Menteri sampai dengan akhir tahun kita mempertahankan. Ini tidak ada kenaikan untuk Pertalite, untuk subsidi,” ujar Yuliot di TMP Kalibata, Jakarta, Selasa 29 September 2026.

Mekanisme harga BBM non subsidi berbeda dengan Pertalite. Harga BBM nonsubsidi disesuaikan dengan harga pasar berdasarkan perkembangan harga minyak dalam periode tertentu.

“Tapi kalau yang ini non-subsidi ini akan menyesuaikan dengan harga pasar. Jadi ini yang kita lihat rata-rata dalam 1 bulan kira-kira berapa penyesuaian kira-kira berapa,” ujar Yuliot.

Dengan mekanisme tersebut, harga Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya tidak ditetapkan pada angka yang sama sepanjang tahun.

Penyesuaian harga mengikuti perkembangan harga pasar yang menjadi acuannya. Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi harga BBM nonsubsidi.

Kondisi tersebut tidak berlaku untuk Pertalite yang harganya dipertahankan pemerintah hingga akhir tahun.

Pemerintah juga tengah mendorong peningkatan produksi minyak dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan minyak dari luar negeri.

Yuliot mengatakan, Kementerian ESDM mempercepat peningkatan produksi melalui optimalisasi lapangan yang sudah beroperasi dan eksplorasi wilayah baru.

Sejumlah lapangan minyak dalam negeri terindikasi memiliki potensi produksi sekitar 2.500 hingga 3.000 barel per hari.

“Ada beberapa lapangan dalam negeri yang terindikasi bisa memproduksi sekitar 2.500 hingga 3.000 barel per hari,” ujar Yuliot.

Pemerintah menargetkan produksi minyak Indonesia menembus lebih dari 1 juta barel per hari.

Pengembangan lapangan dan eksplorasi akan digenjot pada 2027 dan 2028 untuk mengejar target tersebut.

“Potensi dari eksplorasi dan eksploitasi ini akan kita genjot pada 2027 dan 2028, sehingga target produksi di atas 1 juta barel per hari bisa tercapai,” tegas Yuliot.

Exit mobile version