Suaranusantara.com – Stunting menjadi fokus utama yang harus diwaspadai demi mempersiapkan generasi penerus bangsa Indonesia.
Banyak tokoh nasional tengah menggaungkan perjuanganya mencegah stunting pada anak Indonesia. Salah satunya, Politikus muda PDI Perjuangan Rahajeng Widyaswari.
Ajeng, sapaan akrab Rahajeng Widyaswari bertekad mewujudkan Kota Semarang zero stunting. Dirinya melibatkan ibu-ibu Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK) dalam program bertajuk “Memasak dan Berbagi Makanan Sehat Penuh Gizi untuk Generasi Emas Indonesia”.
“Pemerintah sangat serius mengupayakan penurunan angka prevalensi stunting, mengingat penanganan tengkes (stunting) ini menentukan masa depan bangsa,” ujar Ajeng yang juga merupakan dokter gigi, beberapa waktu yang lalu.
Ajeng menilai bahwa keterlibatan ibu-ibu PKK dalam penanganan stunting sangatlah strategis. Pasalnya, peran ibu didalam rumah tangga sangat penting, yakni dalam menyajikan makanan bernutrisi tinggi yang penting untuk tumbuh kembang anak.
Ajeng yang juga merupakan putri dari mantan menteri dalam negeri Indonesia, almarhum Tjahjo Kumolo berharap Buku Resep Makanan Baduta dan Ibu Hamil untuk Generasi Emas Indonesia karya Hevearita G. Rahayu (Wali Kota Semarang), dapat menjadi bahan referensi ibu-ibu PKK.
“Buku itu berdasarkan resep-resep masakan Megawati Soekarnoputri,” ungkapnya.
Ajeng juga menuturkan bahwa kesehatan gigi dan status gizi memiliki hubungan 2 arah mata panah. Pertama, asupan zat gizi dapat mempengaruhi kesehatan gigi seseorang. Kedua, kesehatan gigi dapat mempengaruhi status gizi seseorang.
“Mencegah gigi berlubang itu sangat penting. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa gigi berlubang bisa mempengaruhi status gizi anak,” papar Ajeng.
Penderita gigi berlubang dengan lubang hingga menembus jaringan pulpa, lanjut Ajeng, akan merasa tidak nyaman apabila lubang tersebut dimasuki makanan.
“Rasa ketidaknyamanan pada gigi berlubang bisa menyebabkan penurunan nafsu makan yang berakibat pada status gizi kurang pada anak,” imbuhnya.
Sehingga Ajeng memandang bahwa stunting bisa dicegah dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut.
“Mungkin terdengar sepele, namun justru sangat penting dan memiliki pengaruh besar karena mulut adalah pintu masuk pertama asupan gizi anak,” tegasnya.
Diketahui, penderita stunting di Kota Semarang yang sudah terdata sebanyak 1.144 orang, berikut ini rinciannya :
Berdasarkan jenis kelamin
1.Penderita berjenis kelamin perempuan berjumlah 579 orang.
2.Penderita berjenis kelamin laki-laki berjumlah 565 orang.
Berdasarkan usia
1.Berusia 3 tahun (345 orang),
2.Berusia 2 tahun (309 orang),
3.Berusia 4 tahun (236 orang),
4.Berusia 1 tahun (210 orang),
5.Berusia 5 tahun (44 orang).
Dari 16 kecamatan di Kota Semarng, Ajeng mengatakan bahwa Kecamatan Semarang Utara tertinggi dengan jumlah 206 orang, menyusul Kecamatan Ngaliyan (132 orang), Semarang Barat (97 orang), serta Semarang Selatan dan Semarang Timur masing-masing 93 orang.
Adapun kecamatan terendah angka stuntingnya adalah Kecamatan Candisari tujuh orang, Genuk (15 orang), Gajahmungkur (34 orang), Gayamsari (39 orang), Tugu (43 orang), Banyumanik (53 orang), Pedurungan (56 orang), Gunungpati (65 orang), Mijen (69 orang), serta Tembalang dan Semarang Tengah masing-masing 71 penderita.(ADT)
