Gaji Pas-pasan, Banyak Potongan Wajib Ditambah Harus Bayar Tapera, Pekerja Respon Keberatan

Tapera bikin pekerja keberatan lantaran sudah banyak potongan-potongan wajib (instagram @palembanginformasii)

Tapera bikin pekerja keberatan lantaran sudah banyak potongan-potongan wajib (instagram @palembanginformasii)

SuaraNusantara.com- Pekerja merasa keberatan dengan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang dipotonga 2,5 persen setiap bulannya dari gaji atau upah.

Para pekerja pun keberatan lantaran gaji yang didapat bisa dibilang pas-pasan jika harus dipotong lagi untuk Tapera maka akan menjadi lebih sulit lagi.

Merujuk pada UMR Jakarta yang tarohlah Rp.5 juta, lalu dipotonga iuran Tapera 2,5 persen maka yang diterima hanya Rp.4.850.000,-.

Potongan Rp.150 ribu sangatlah lumayan bagi karyawan yang gajinya pas-pasan.

Terlebih saat ini harga-harga melambung tinggi jadi tidak sepadan dengan pendapatan yang didapat setelah potongan Tapera.

“Kalau diwajibkan kena potong, ya gue juga enggak setuju sih. Itu keberatan banget,” ujar salah satu pekerja di Jakarta Selatan saat dihubungi pada Rabu 29 Mei 2024.

Pekerja tersebut mengatakan saat ini pendapatannya itu digunakan untuk investasi dan kebutuhan keluarga.

Dia pekerja mengaku bahwa dirinya saat ini tidak tertarik membeli rumah mengingat akan mendapat warisan dari keluarga orang tuanya.

Keberatan juga disampaikan oleh pekerja lainnya di Jakarta Barat.

Pekerja di Jakarta Barat ini adalah sebagai pegawai pabrik yang sangat keberatan dipotong untuk Tapera

Pekerja di Jakarta Barat tersebut mengatakan, gajinya sudah banyak dipotong untuk berbagai iuran wajib dari pemerintah seperti BPJS dan PPN.

Walau tiap tahun ada kenaikkan gaji namun tidak seberapa dengan potongan-potongan iuran wajib.

Apalagi saat ini harga-harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi jadi dia merasa keberatan.

“Kalau aku sih kurang setuju ya. Kita udah banyak potongan. Pajak naik kan, PPN (jadi) 11 persen. Dipotong (lagi) BPJS Ketenagakerjaan (TK) dan BPJS Kesehatan,” kata pekerja di Jakarta Barat itu.

Hal serupa juga disampaikan oleh pegawai di salah satu start up pendidikan yang berkantor di Tebet, Jakarta Selatan.

Meskipun ia dan suaminya sama-sama bekerja, dia juga tetap merasa keberatan dengan wacana potongan ini. Apalagi dirinya saat sudah memiliki rumah.

“Ya iyalah (merasa keberatan), 2,5 persen mending (kasih) ke anak yatim daripada yang gak jelas,” ungkap pekerja tersebut.

*

Exit mobile version