Suaranusantara.com- Selasa 17 Maret 2026, sebagian masyarakat sudah mulai melakukan perjalanan mudik Lebaran 2026. Namun, ada baiknya sebelum melakukan mudik, pemudik terlebih dahulu memantau kondisi arus lalu lintas.
Untuk itu, pemerintah telah menyediakan link CCTV yang dapat diakses oleh masyarakat guna memantau pergerakan arus mudik Lebaran 2026 baik itu di jalan tol maupun non tol.
CCTV tersebut menampilkan kondisi lalu lintas arus mudik Lebaran 2026 secara real time. CCTV pemantauan mudik Lebaran 2026 tersebut disediakan melalui situs resmi yang dikelola oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Melalui laman ini, masyarakat dapat melihat kondisi lalu lintas dari ratusan titik pantau mudik hari ini yang tersebar di berbagai ruas jalan.
Berikut ini dapat disimak link CCTV untuk pantau arus mudik Lebaran 2026 secara real time:
– CCTV Jalan Tol: https://mudik.pu.go.id/cctv-tol
– CCTV Jalan Non Tol: https://mudik.pu.go.id/cctv-ai
– CCTV Kemenhub: https://mudik.pu.go.id/cctv-kemenhub
Melalui situs tersebut, pengguna dapat memantau kondisi jalur mudik secara real time melalui 1.351 kamera CCTV yang dipasang di sejumlah ruas jalan tol maupun jalan arteri di berbagai daerah.
Selain menampilkan tayangan CCTV, laman ini juga menyediakan peta informasi jalur mudik dan peta curah hujan yang dapat membantu pemudik merencanakan perjalanan dengan lebih baik.
Informasi lengkap mengenai layanan tersebut dapat diakses melalui situs resmi https://mudik.pu.go.id/.
Sementara itu, Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Korlantas Polri) memperkirakan puncak arus mudik Lebaran 2026 akan terjadi dalam dua gelombang.
Gelombang pertama diprediksi berlangsung pada 14–15 Maret 2026, sedangkan gelombang kedua diperkirakan terjadi pada 18–19 Maret 2026.
Adapun puncak arus balik diperkirakan terjadi pada 24–25 Maret 2026, dengan gelombang kedua pada 28–29 Maret 2026.
Pemerintah memperkirakan mobilitas masyarakat selama periode Lebaran mencapai sekitar 143,9 juta perjalanan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 52 persen pemudik diprediksi menggunakan kendaraan pribadi. Lonjakan mobilitas ini berpotensi memicu kepadatan di sejumlah ruas jalan utama, terutama jalur tol dan jalan arteri yang menghubungkan wilayah Jabodetabek dengan berbagai daerah di Pulau Jawa dan wilayah lainnya.
