
Bogor-SuaraNusantara
Presiden Jokowi menyambangi Korem 061 Suryakencana, Bogor, Jawa Barat yang tengah menggelar nonton bareng film “Pengkhianatan G30S/PKI” di halaman tenis indoor bersama anggota TNI dan Polri serta masyarakat, Jumat (29/9/2017) hingga tuntas pada Sabtu (30/9/2017) dini hari.
Film berdurasi kurang lebih empat jam tersebut berakhir pada pukul 00.35 WIB. Presiden yang sejak awal menonton pukul 20.05 WIB tidak bergeser dari tempat duduknya sampai penanyangan berakhir.
Presiden yang malam itu tampak mengenakan jaket merah dipadu celana hitam tiba di lokasi sekitar pukul 20.00 WIB dan langsung menempati tempat yang berada persis di hadapan layar.
Turut mendampingi Presiden, di antaranya Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang bergabung kemudian dan Danpaspampres Mayjen TNI Mar Suhartono.
Film Pengkhianatan G30S/PKI adalah film propaganda pemerintahan Orde Baru yang dirilis tahun 1984. Disutradarai oleh Arifin C. Noer, film ini antara lain diperankan oleh Amoroso Katamsi (Mayjen Soeharto), Umar Kayam (Bung Karno) dan Syubah Asa (DN Aidit).
Diproduksi selama dua tahun sejak 1982 dengan anggaran sebesar Rp. 800 juta yang termasuk sangat besar untuk ukuran kala itu, film ini dibuat berdasarkan versi resmi pemerintah Orde Baru yang diamini TNI AD.
Film ini adalah film dalam negeri pertama yang menggambarkan peristiwa 1965 dan dirilis secara komersial. Film ini dinominasikan untuk tujuh penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI) 1984, dan memenangkan satu penghargaan untuk kategori Skenario Asli Terbaik yang ditulis oleh Arifin C. Noer.
Film ini ditonton oleh 699.282 orang di Jakarta pada akhir tahun 1984, sebuah rekor nasional yang tetap tak terlampaui selama lebih dari satu dekade. Namun tak semua penonton hadir secara sukarela karena banyak murid sekolah yang “dipaksa” menonton film ini pada jam sekolah.
Banyak yang tidak tahu bahwa sebenarnya film Pengkhianatan G30S/PKI memiliki sekuel karena Soeharto setelah melihat penayangan awal film ini, menyatakan bahwa cerita film ini belum selesai dan menyarankan bahwa sebuah sekuel diperlukan.
Dua sekuel diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN) berjudul Operasi Trisula (1987) dan Djakarta 1966 (1988). Operasi Trisula disutradarai oleh BZ Kadaryono, menceritakan tentang pemberantasan G30S dan anggota PKI di Blitar, Jawa Timur
Sementara Djakarta 1966 disutradarai kembali oleh Arifin C. Noer dan menunjukkan peristiwa menjelang penandatanganan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) di mana digambarkan Soekarno memberikan wewenang pada Soeharto untuk mengambil tindakan apapun yang “dianggap perlu”. Secara artistik, Djakarta 1966 melampaui pencapaian Pengkhianatan G30S/PKI karena sukses menyabet tujuh penghargaan di Festival Film Bandung (1989).
Penulis: Yon K