Keseruan Berlibur di Curug Sata Gunungkencana

Foto: Facebook Dian Wahyudi

Sudah cukup lama saya tidak mendatangi Curug (air terjun) di Kabupaten Lebak, Banten. Sambil mengisi liburan, setelah mencari beberapa destinasi curug di Lebak yang dapat didatangi, utamanya yang lokasinya tidak begitu jauh dari Rangkasbitung. Kali ini, saya dan Komunitas Lingkung Curug Lebak, mendatangi Curug Sata, di kecamatan Gunungkencana.

Pukul 06.30 WIB, kami sudah melakukan persiapan, karena rencananya pukul 07.00 WIB kami berangkat. Karena hanya akan melakukan trip biasa tanpa menginap, tidak banyak persiapan yang kami lakukan. Tiga hari sebelumnya, kami menelepon kontak kami di Kecamatan Gunungkencana tentang rencana kedatangan kami.

Kami memanggilnya Ka Andi dari Gunung Kendeng, sahabat lama kami. Beliau menyambut gembira akan rencana kami,

“Wah, jalannya sudah enak sekarang mah, bisa masuk mobil”, ujar beliau.

Berlima, kami menggunakan kendaraan roda empat menuju Gunungkencana. Sebenarnya sepertinya, lebih asyik touring menggunakan kendaraan roda dua, karena lebih terasa liburannya (ahaay). Namun, untuk kenyamanan kami memutuskan menggunakan kendaraan roda empat saja.

Selama sekira satu jam, sopir kami memacu kendaraan, arah yang dituju sebagai acuan adalah sebelum Jembatan Leuwikopo, lalu belok kanan. Ancer-ancernya, setelah SMAN Gunungkencana, simpangan menuju Curug Munding juga terus saja melalui ikuti jalan utama

Ternyata mudah saja, setelah Jembatan Leuwikopo ketemu, kami belok kanan. Ka andi sudah menunggu di pinggir jalan. Keren juga, beliau menggunakan motor trail, kami ngobrol sebentar, karena memang sudah cukup lama pula tidak bertemu, terakhir bertemu sekitar bulan Januari 2019 yang lalu.

Kami dipandu oleh beliau, dari jalan utama sekitar 800 meter menuju ke lokasi Curug Sata. Badan jalannya masih tanah, saat ini sudah lebar, saya sangat beruntung sekali, kendaraan roda empat sudah dapat masuk sampai lokasi. Badan jalan, sepertinya baru, batu-batu besar masih tampak di sekitaran tebing, tebing tanah merah. Disebalah kiri, sudah tampak sungai berbatu, batu-batu besar.

Karena musim kemarau, suasana cukup terik menerpa, sementara jam masih menunjukkan 08.30 WIB terik tapi cukup menggairahkan, karena sudah cukup lama kami tidak lelecehan (bermain air). Turunan cukup aduhai, jika masuk musim penghujan, karena masih jalan tanah.

Kami sampai, suasana terasa terik tapi damai, suara baling-baling kolecer menyambut kami. Kami parkir, cukup luas, menuju rumah atau saung (rumah sederhana dari bilik beratap hateup dan ijuk) masih tampak baru selesai dibangun, sejurus kami turun, hawa lebih terik, maklum saja didalam mobil sejuk karena ber-AC.

Cukup panas, pohon-pohon beberapa ditebang, dominan pohon karet, dikejauhan hamparan pemandangan bukit hijau yang indah, masih rimbun, hutan. Suara gemuruh sudah terdengar oleh kami. Curugnya di bawah sana, ujar Ka Andi, sambil menunjuk ke belakang sebelah kiri saung.

Saung tampak kosong, namun tampak beberapa botol air, beberapa perabot masak, hawu (tempat masak menggunakan kayu) masih terdapat api, dan ceret air tampak tergantung. Berarti ada orang disekitar sini, gumam saya, sedang masak air.

Karena sudah tidak sabar, kami memburu menuju Curug. Subhanallah, debit airnya cukup berlimpah, padahal sedang masuk kemarau di sini. Air bergemuruh, tercurah menumbuk batu-batu besar, memecah air di bawahnya, damai.

Kami memandangnya dari papan panorama sederhana di tebing, sudah agak lapuk, tapi masih kuat, batu-batu besar, sebesar gajah, tampak berserakan, tak beraturan namun indah. Kami menuruni batu-batu besar, kaki harus hati-hati melangkah. Jika harus merasakan airnya harus melangkah ke bawah sana, lebih ke bawah lagi. Untuk sementara kami hanya berdiri memandang deburan air di atas batu besar. Damai…

Di batu-batu besar tersebut, karena terhalang oleh pohon-pohon besar dan rumpun bambu yang cukup banyak, terik menjadi sangat teduh. Kami, membuat seduhan kopi hitam, tetap cap kupu-kupu, haha. Se-gelas kopi hitam tandas sambil menikmati curahan air curug yang menakjubkan. Kami berfoto mengabadikan keseruan menikmati Curug Sata.

Tak lama, pemilik saung, ternyata pemiliknya Ka Alek datang. Senang sekali, saya menyambut, memanggil beliau dengan Ma Haji Alek, kami saling kenal. Beliau berharap agar Curug Sata ini dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata air terjun andalan Gunungkencana bahkan Kabupaten Lebak seperti Curug Munding yang telah lebih dulu dikenal luas.

Saya mengamini pendapat beliau, Curug Sata ini sangat indah, debit airnya berlimpah. Curug yang menurut Ka Haji Alek berada di Desa Keramat Jaya ini (walaupun menurut beberapa informasi berada di Desa Cimanyangray) kecamatan Gunungkencana sangat layak menjadi potensi wisata baru.

Tempat parkir cukup luas, telah tersedia saung singgah, tinggal jalan menuju Curug di batu alam, agar kesan alaminya tetap terasa. Saat ini baru tersedia sengked ditahan bambu saja, dengan pegangan dari bambu pula. Saat memasuki musim penghujan sepertinya belum memadai dari segi keselamatan. Sayang sekali jika ke depan tidak ditata secara profesional. Karena pengunjung yang datang cukup ramai, terutama di akhir pekan.

Jelang makan siang, telah tersedia nasi timbel komplit dari Ka Andi. Kami mengajak Ka Haji Alek untuk makan siang bareng, sayangnya beliau ada keperluan ke tempat lain.

Untuk menambah keseruan dan menikmati suasana Curug, kami gelar lesehan, buka timbel makan siang. Menunya dahsyat, timbel nasi di daun pisang, goreng ikan emas tepung, tempe, lalap timun, dan tentunya sambel pedas. Deuuh..Subhanallah, nikmatnya. Ditingkahi gemuruh air terjun, mirasa jasa ceuk budak tea mah (nikmat sekali).

Setelah makan siang, saya menuju ke bawah, menuju sungai, airnya cukup deras, loncat dari batu satu ke batu yang lain, besar-besar. Walaupun terik, airnya terasa dingin, hijau kecoklatan, nyeeesss. Suasananya damai…

Air cukup berlimpah, setelah puas menikmati keseruan air terjun dan bermain gemericik air sungai, kami sholat di saung di atas, dekat tempat parkir. Kolecer di atas pohon, menambah damai suasana. Angin sepoi-sepoi, suasana terik namun iuh (sejuk), mengajak mata ngantuk ujar teman yang lain, walhasil, karpet dan bantal yang tersedia, membuat kami gogoleran (tergeletak tiduran) dina palupuh saung.

Obrolan terakhir kami dengan Ka Haji Alek sebelum beliau pergi tadi, kami mohon izin untuk datang kemari dan berencana menginap. Beliau tampak gembira, namun maklum saja kata beliau, belum ada penerangan listrik dan toilet yang memadai, jangankan sehari dua hari, sebulan juga silakan kata beliau. Haha…Bisaaaaeee.

#bening

Penulis adalah: Dian Wahyudi
Komunitas Lingkung Curug Lebak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here