Suaranusantara.com – Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno, mengungkapkan bahwa Jakarta mengalami pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di sektor pariwisata sebesar 9,66 persen. Pertumbuhan tersebut disebut turut disertai dengan peningkatan jumlah wisatawan.
Hal itu disampaikan Rano dalam Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta terkait Penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur DKI Jakarta Tahun Anggaran 2025 pada Senin (20/4/2026).
Namun, pernyataan tersebut menuai sorotan. Sejumlah pihak mempertanyakan validitas klaim pertumbuhan hampir 10 persen di sektor pariwisata tersebut.
“Klaim Bang Rano bahwa PDRB Jakarta di Sektor Pariwisata meningkat hampir 10 persen ini masih perlu dibuktikan. Karena dalam kenyataannya, banyak pelaku usaha di sektor tersebut menjerit karena kesulitan mendapatkan pelanggan,” tegasnya mempertanyakan pidato Rano.
“Sampai kepada pernyataan bahwa jumlah wisatawan meningkat sebesar 37 persen juga perlu ditelaah lebih dalam lagi apakah kenyataannya di lapangan sudah sesuai dengan klaim itu,” sambungnya.
Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD DKI Jakarta sekaligus Penasihat Fraksi PSI, August Hamonangan, turut mempertanyakan klaim terkait tingkat okupansi hotel di Jakarta.
Ia mengingatkan bahwa pada pertengahan 2025, sektor perhotelan sempat mengalami penurunan okupansi yang cukup signifikan, bahkan diiringi isu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal dan penjualan sejumlah hotel.
August menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa bisnis perhotelan di Jakarta masih sangat bergantung pada aktivitas pemerintah, bukan pada arus wisatawan, sehingga klaim peningkatan sektor pariwisata perlu dikaji lebih lanjut, termasuk dampaknya terhadap pelaku usaha seperti hotel, restoran, kafe, hingga destinasi wisata seperti Setu Babakan.
“Ini membuat kita bertanya-tanya, apa yang menjadi indikator Bang Rano dalam mengatakan bahwa sektor pariwisata kita meningkat dan jumlah wisatawan asingnya naik. Dan kalau memang betul, apakah sudah berdampak positif terhadap usaha-usaha seperti perhotelan, restoran, kafe-kafe, sampai dengan tempat-tempat wisata seperti Setu Babakan selama ini,” pungkas August di Jakarta, Kamis (23/4).
