Jakarta, SuaraNusantara.com – Sosial media tengah ramai membahas isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) Pertalite. Pasalnya sinyal-sinyal sudah dilempar Presiden Jokowi Widodo (Jokowi-red) dalam rentan waktu 3 bulan terakhir ini.
Presiden Jokowi berulang kali menyinggung beban subsidi pemerintah hingga Rp 502 triliun. Subsidi itu diberikan untuk menahan lonjakan harga BBM Pertalite, Pertamax, LPG hingga tarif listrik. Jokowi menyinggung persoalan ini dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan sejumlah pimpina lembaga tinggi negara.
Pertama kali persoalan subsidi ini disinggung Jokowi pada 11 Juni 2022 dalam acara silaturahmi dengan relawan tim 7 di E-Convention Ancol. Dia menyebut tingginya Anggaran Pendapat dan Belanja Negara. Jokowi akui meski berat namun subsidi itu perlu karena rakyat belum pulih dari dampak pandemi.
“APBN menjadi berat karena subsidinya sekarang untuk BBM, Pertalite, solar, LPG, subsidinya menjadi Rp 502 triliun, gede sekali. Nggak ada negara yang seberani kita melakukan ini subsidi segede ini,” katanya, Sabtu (11/6) lalu.
Selang beberapa minggu kemudian tepatnya Selasa, (21/6) lalu, Jokowi dalam kesempatan rapat kerja PDIP perjuangan. Dirinya kembali mengeluhkan beratnya dana yang dikeluarkan untuk subsidi sektor energi. Bahkan menurut Jokowi, jumlah subsidi energi bisa digunakan untuk membangun satu ibu kota negara (IKN) baru.
“Karena angkanya sudah Rp 502 triliun. Ini semua yang kita harus ngerti, sampai kapan kita bisa bertahan dengan subsidi sebesar ini. Kalau kita nggak ngerti angka, kita nggak bisa merasakan betapa sangat beratnya persoalan saat ini,” katanya, Selasa (21/6).
Lalu beberapa bulan kemudian di Senin 1 Agustus 2022, dalam kesempatan acara dzikir dan doa kebangsaan 77 tahun Indonesia merdeka. Dia menyebut lonjakan ekonomi kali ini tidak ada negara yang kuat menanggung tinggi subsidi di sektor engergi. Kondisi ini menurut Jokowi menyulitkan semua negara seperti harga bahan bakar minyak (BBM) yang mahal dan sulit.
“Kita patut bersyukur alhamdulillah kalau bensin di negara lain harganya sudah Rp 31 ribu, Rp 32 ribu di Indonesia Pertalite harganya masih Rp 7.650 tapi perlu kita ingat subsidi terhadap BBM sudah terlalu besar, sekarang sudah Rp 502 triliun,” kata Jokowi.
Selang beberapa hari kemudian, dalam kesempatan acara silahturahmi nasional dan HUT ke-19 Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat di hari Jumat 5 Agustus 2022. Jokowi kembali mengatakan dengan tegas anggaran subsidi BBM saat ini mencapai Rp 502 triliun dan sudah tidak ada negara di dunia yang berani menggelontorkan dana subsidi. Meski begitu dirinya mengatakan pemerintah berusaha mengeluarkan subsidi untuk menahan laju inflasi.
“Begitu harga bensin naik, harga barang otomatis melompat bersama-sama. Oleh sebab itu pemerintah mengeluarkan anggaran subsidi yang tidak kecil Rp 502 triliun yang tidak ada negara berani memberikan subsidi sebesar yang dilakukan Indonesia,” tutur Jokowi.
Terakhir, beberapa hari sebelum peringatan HUT ke 77 Kemerdekaan RI, Jokowi kembali menyinggung tingginya subsidi di Indonesia. Hal itu dikatakan Jokowi dihadapan seluruh pejabat petinggi negara.
“Kita harus menahan harga Pertalite, gas, listrik, termasuk Pertamax, gede sekali. Tapi apakah angka Rp 502 triliun terus kuat kita pertahankan?,” kata Jokowi di Istana Negara, Jumat (12/8/2022).
Besarnya subsidi yang diberikan pemerintah. Jokowi meragukan kalau pemerintah dapat menahan harga lewat subsidi atau tidak. Yang pasti jika terjadi kenaikan, maka akan ada kenaikan sebesar dua kali lipat mengikuti harga eknomoi.
“Kalau bisa Alhamdulillah, artinya rakyat tidak terbebani. Tapi kalau APBN tidak kuat bagaimana?” tutup Jokowi. (edw)
