Suaranusantara.com- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap bahwa super flu di Indonesia ditemukan sudah ada sebanyak 74 kasus terhitung sejak 1 Januari 2026 hingga 10 Januari 2026.
Super flu atau varian virus subclade K spesimen influenza A(H3N2), Kemenkes mengungkap dari 74 kasus, terbanyak melanda wilayah Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes dr Prima Yosephine mengatakan puncak kasus terjadi pada minggu ke-40 tahun 2025 dan terus menurun sejak minggu ke-44. Tidak ada penambahan penemuan kasus A(H3N2) subclade K mulai minggu ke-52.
dr Prima mengatakan orang-orang yang menderita super flu memiliki gejala seperti flu biasanya. Namun, gejala bisa berat terhadap orang-orag usia rentan seperti lansia dan penyakit tinggi.
“Sebagian besar pasien influenza mengalami gejala ringan hingga sedang dan dapat sembuh dengan sendirinya. Kasus berat umumnya terjadi pada kelompok berisiko tinggi, seperti lansia dan individu dengan penyakit penyerta,” ucapnya dalam keterangan resmi, Kamis 22 Januari 2026.
Virus super flu bukanlah virus baru melainkan sebuah istilah. Virus ini merupakan bagian dari influenza musiman yang beredar setiap tahun.
Untuk itu, dr Prima meminta masyarakat agar tidak panik dengan adanya super flu. Terlebih di Indonesia kasusnya menurun.
“H3N2 merupakan bagian dari influenza musiman. Pertengahan Januari 2025, H3N2 subclade K telah dilaporkan di 80 negara, termasuk Indonesia dengan kasus pertama terdeteksi pada M36. Namun berdasarkan hasil pemantauan, tren kasus influenza di Indonesia telah menurun sehingga masyarakat tidak perlu panik,” ujarnya.
Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk rutin mencuci tangan, memakai masker saat sakit atau berada di kerumunan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala flu berat atau tidak kunjung membaik.
“Yang terpenting adalah kewaspadaan, bukan kepanikan. Influenza ini masih dalam kategori penyakit musiman yang bisa dikendalikan,” tegas dr Prima.
Di sisi lain, Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, Sp A, Subsp Respi(K), beberapa waktu lalu menjelaskan subclade K tidak menunjukkan ciri klinis atau gejala yang berbeda dari influenza A pada umumnya.
Namun, ada gejala-gejala yang perlu diwaspadai seperti:
– demam tinggi
– menggigil
– sakit kepala
– nyeri tenggorokan
hingga keluhan pernapasan
“Dia tidak bisa dideteksi secara klinis, artinya dokter kalau melihat saja bahkan tidak bisa membedakan ini influenza atau bukan influenza,” ungkap dr Nastiti.
