Jakarta-SuaraNusantara
Jenazah pengusaha Probosutedjo telah diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Diponegoro No. 20, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (26/3) pukul 14.30 WIB. Rencananya, jasad adik lain bapak dari mantan Presiden Soeharto ini akan dimakamkan tepat bersebelahan dengan makam sang ayah di Komplek Makam Somenggalan, Bantul, DI Yogyakarta.
Makam Somenggalan merupakan makam pejuang dan rakyat yang gugur pada masa perang mempertahankan kemerdekaan sekitar tahun 1948-1949. Ada kurang lebih 202 pahlawan dimakamkan di sana. Sebagian merupakan warga biasa -bukan militer- yang dibunuh tentara Belanda karena tidak mau menunjukkan tempat persembunyian Letkol Soeharto yang kala itu sedang dicari-cari Belanda.
Probosutedjo meninggal dunia di RSCM Jakarta, Senin (26/03/2018) pagi tadi sekitar pukul 07.00 WIB, di usia 87 tahun karena sakit kanker tiroid yang telah dideritanya sejak 20 tahun terakhir. Anak almarhum bernama Lindang Sari Kurniawati Probosutedjo menyatakan ayahnya sempat dirawat sejak Kamis (22/3/2018) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
“Beliau sempat dirawat sejak Kamis kemarin,” kata Lindang di rumah duka di Jalan Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (26/03/2018).
Beliau sudah 20 tahun menderita penyakit kanker. Dan setelah sekian lama berjuang, akhirnya beliau berserah diri ke Allah SWT. Kami mohon doanya,” sambung Lindang.
Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya
Dari berbagai sumber yang dihimpun SuaraNusantara, diketahui tiroid adalah sepasang kelenjar yang terletak di belakang jakun atau kartilago tiroid, atau di sisi tenggorokan. Kelenjar ini mengeluarkan hormon-hormon yang mengatur metabolisme, pertumbuhan, suhu tubuh, denyut jantung, tekanan darah, berat badan, dan lainnya.
Sementara kanker tiroid terjadi akibat pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali pada kelenjar tiroid. Hal ini dapat terjadi secara primer (penyebab utama) atau sekunder (akibat penyebaran atau metastasis).
Kanker tiroid umumnya terjadi pada orang yang berusia antara 35-39 tahun dan usia 70 tahun ke atas. Wanita memiliki risiko kanker tiroid tiga kali lipat lebih besar dibandingkan pria. Meski penyebab pasti kanker tiroid masih belum diketahui, tapi ada kemungkinan hal ini berkaitan dengan perubahan hormon pada sistem reproduksi wanita.
Kanker tiroid terbagi menjadi empat jenis, yaitu:
- Karsinoma papiler. Ini adalah jenis kanker tiroid yang paling umum terjadi, yaitu sekitar 60 persen dari keseluruhan kasus kanker tiroid, dan biasanya memengaruhi wanita usia di bawah 40 tahun.
- Karsinoma folikuler. Sekitar 15 persen dari kasus kanker tiroid adalah jenis ini. Karsinoma folikuler cenderung terjadi pada orang-orang lanjut usia.
- Karsinoma medular tiroid. Jenis ini terjadi pada sekitar 5-8 persen dari seluruh kasus kanker tiroid. Yang membedakan dari jenis lainnya adalah karsinoma medular tiroid umumnya dipengaruhi oleh faktor keturunan.
- Karsinoma tiroid anaplastik. Ini merupakan jenis kanker tiroid yang paling jarang, namun paling agresif. Kondisi ini hanya terjadi pada 5 persen dari keseluruhan kasus kanker tiroid dan umumnya terjadi pada usia 60 tahun ke atas.
Pada tahapan awal, kanker tiroid jarang menimbulkan gejala, bahkan cenderung tidak ada sama sekali. Namun, jika sudah memasuki tahap lanjutan, kanker tiroid seringkali ditandai dengan munculnya benjolan atau pembengkakan pada bagian depan leher, lebih tepatnya di bawah jakun, dan biasanya tidak terasa sakit.
Ada beberapa gejala lain yang muncul setelah kanker memasuki stadium lanjutan, di antaranya:
- Sakit tenggorokan.
- Kesulitan dalam menelan.
- Suara menjadi serak dan tidak membaik setelah beberapa minggu.
- Rasa sakit pada bagian leher.
- Pembengkakan kelenjar getah bening di bagian leher.
Penyebab pasti kanker tiroid masih belum diketahui, tapi terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, antara lain:
- Mengalami gangguan tiroid. Orang yang pernah mengalami penyakit tiroid jinak, seperti peradangan kelenjar tiroid atau penyakit gondok, memiliki risiko kanker tiroid yang lebih besar dibanding mereka yang belum pernah mengalaminya.
- Riwayat kesehatan keluarga. Kelainan genetik yang diturunkan menjadi penyebab dari beberapa kasus karsinoma tiroid menduler. Risiko kanker tiroid meningkat apabila seseorang memiliki keluarga yang pernah menderita kanker ini.
- Tinggi dan berat badan. Risiko kanker tiroid akan meningkat jika seseorang memiliki berat badan berlebih. Risiko juga akan meningkat pada orang dewasa dengan tinggi badan di atas rata-rata.
- Pajanan terhadap radiasi. Radiasi dari nuklir atau radiasi dari pengobatan medis tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker tiroid, terutama jika radiasi itu mengenai bagian leher dan kepala.
- Gangguan pencernaan. Jika seseorang mengalami gangguan pencernaan familial adenomatous polyposis (FAP), dia lebih berisiko mengalami kanker tiroid. FAP merupakan penyakit turunan yang disebabkan oleh gen yang cacat.
- Jenis kelamin. Wanita memiliki risiko kanker tiroid 2-3 kali lipat dibandingkan pria. Kondisi ini mungkin berkaitan dengan hormon yang dilepaskan pada saat wanita mengalami menstruasi atau ketika sedang hamil.
- Ini adalah kondisi langka dimana tubuh menghasilkan terlalu banyak hormon pertumbuhan. Kondisi ini menyebabkan orang yang mengalami akromegali lebih berisiko terkena kanker tiroid.
Bila anda merasakan sesuatu yang tidak biasanya terjadi di sekitar tenggorokan, segeralah memeriksakan diri ke dokter, Jenis pengobatan kanker tiroid sangat bergantung kepada jenis dan stadium dari kanker yang diderita. Beberapa jenis kanker, seperti karsinoma papiler, karsinoma folikuler, dan sebagian karsinoma tiroid meduler, memiliki peluang yang lebih baik untuk sembuh. Kanker tiroid jenis ini ditangani dengan cara operasi pengangkatan kelenjar tiroid, dan mungkin dikombinasikan dengan radioterapi. (Eka/dari berbagai sumber)
