Jokowi dan Prabowo Jarang Bertemu, Pengamat: Pertanda Pengaruhnya Mulai Memudar

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi, hasil survei Polling Institute nyatakan harmonis (instagram @pinterpolitik)

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi, hasil survei Polling Institute nyatakan harmonis (instagram @pinterpolitik)

Suaranusantara.com- Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi nampaknya mulai jarang bertemu.

Terakhir pertemuan antara Prabowo dan Jokowi saat silaturahmi Lebaran Idulfitri 1446 H. Di mana Prabowo menyambangi kediaman Jokowi di Solo, Jawa Tengah. Sebelumnya, pada bulan puasa Prabowo mengundang Jokowi untuk buka puasa bersama di Istana Negara.

Lalu selanjutnya, belum terlihat lagi pertemuan antara Prabowo dan Jokowi. Prabowo terlihat kini lebih aktif bertemu dengan Presiden ke 5 RI Megawati Soekarnoputri. Prabowo pada momen Lebaran Idulfitri 1446 H juga menyambangi kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.

Direktur Eksekutif Infonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai jarangnya Prabowo dan Jokowi bertemu lantaran bisa dibilang mulai memudarnya pengaruh Presiden ke 7 RI itu.

Hal itu, kata dia, ditandai dengan adanya tekanan yang diterima Jokowi sendiri kemudian juga sudah jarang bertemu dengan Presiden RI Prabowo Subianto.

“Tekanan pada Jokowi dan mulai berkurangnya intensitas pertemuan dengan Prabowo, bisa menandai memudarnya pengaruh Jokowi, terlebih statement anggota kabinet seperti Zulkifli Hasan dan Bahlil Lahadalia yang akan kembali mendukung Prabowo, bisa jadi menguatkan dugaan jika Jokowi mulai melemah,” kata Dedi saat dihubungi pada Selasa 10 Juni 2025.

Selain itu, memudarnya pengaruh Jokowi di kancah politik ditandai dengan belum berlabuhnya Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming Raka ke partai politik usai didepak dari PDI Perjuangan beberapa waktu lalu.

“Juga, terkait posisi Gibran yang hingga kini tidak berlabuh ke Parpol, indikasi tambahan jika kekuatan Jokowi mulai kehilangan keseimbangan,” katanya.

Di sisi lain, Dedi menilai, justru memudarnya pengaruh Jokowi dirasa bagus.

Terlebih buat pemerintahan Prabowo Subianto ke depannya.

“Dan ini sebenarnya bagus, Prabowo bisa leluasa secara mandiri lakukan konsolidasi politik tanpa campur tangan Jokowi,” pungkasnya.

Adapun Jokowi saat ini diketahui digadang-digadang masuk bursa calon ketua umum Partai Silodaritas Indonesia (Caketum PSI). Kendati demikian, Jokowi mengaku belum mencalonkan diri, sebab masih memperhitungkan ke depannya.

Exit mobile version