Suaranusantara.com- Investasi pada tempat kerja yang ramah keluarga dapat memperkuat perekonomian Indonesia dengan meningkatkan produktivitas dan memperluas partisipasi tenaga kerja, khususnya di kalangan perempuan.
Dengan mengatasi tantangan pengasuhan yang dihadapi banyak pekerja, dunia usaha dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif, meningkatkan kinerja, dan mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Temuan ini berasal dari laporan terbaru berjudul “From Barriers to Breakthroughs: Family-Friendly Workplaces for Indonesia’s Future” yang diterbitkan oleh International Finance Corporation (IFC), anggota dari Grup Bank Dunia dan lembaga pembangunan global terbesar dengan fokus pada sektor swasta di pasar negara berkembang.
Riset IFC melibatkan lebih dari 2.000 karyawan dari 13 perusahaan swasta di Indonesia dari berbagai sektor, termasuk layanan keuangan, manufaktur, konsultasi, ritel, e-commerce, serta makanan dan minuman.
Perusahaan mempekerjakan 33.000 pekerja, dan 69 persen di antaranya adalah perempuan. Laporan IFC menunjukkan bahwa tanggung jawab pengasuhan yang belum terfasilitasi dengan baik menjadi biaya tersembunyi bagi perusahaan.
Setengah dari orang tua yang bekerja menyatakan bahwa kewajiban mengasuh anak memengaruhi kinerja mereka di kantor, termasuk kehilangan rata-rata empat hari kerja per tahun setara dengan 1,7 persen dari total biaya gaji.
Kebijakan yang ramah keluarga, seperti pengaturan kerja yang fleksibel, dukungan pengasuhan anak, ruang laktasi, serta layanan penitipan anak di tempat kerja maupun saat darurat.
Dapat membantu mengurangi ketidakhadiran dan mendukung pekerja, khususnya perempuan, kembali bekerja setelah masa cuti melahirkan.
“Tanggung jawab pengasuhan seringkali menjadi hambatan yang tidak terlihat terhadap produktivitas,” ujar Euan Marshall, Country Manager IFC untuk Indonesia.
“Temuan ini menunjukkan bahwa ketika perusahaan mengambil langkah nyata untuk mendukung orang tua yang bekerja, seperti memberikan fleksibilitas kerja atau dukungan pengasuhan, mereka tidak hanya mempertahankan talenta, tetapi juga memperkuat kinerja bisnis. Investasi pada sumber daya manusia adalah investasi yang menguntungkan.”
Menurut International Labor Organization (ILO), lebih dari sepertiga dari 208 juta penduduk usia kerja di Indonesia berada di luar angkatan kerja, hal ini mencerminkan potensi besar yang belum dimanfaatkan.
Perempuan mendominasi kelompok ini; hanya 53 persen perempuan yang berada dalam Angkatan kerja, jauh lebih rendah dibandingkan 81 persen laki-laki. Kesenjangan ini telah berlangsung selama dua dekade terakhir.*
