Suaranusantara.com- Kini, perjalanan panjang seorang Kwik Kian Gie telah mencapai garis akhirnya. Di usia 90 tahun, pria berdarah Tionghoa asal Pati, Jawa Tengah itu menghembuskan napas terakhirnya. Namun warisan pemikiran dan dedikasinya akan terus hidup dalam sejarah ekonomi, pendidikan, dan demokrasi Indonesia.
Kabar kepergian almarhum dibenarkan oleh politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Andreas Hugo Pareira.
“Benar, beliau berpulang sekitar pukul 22.00 WIB,” ujar Andreas kepada Kompas.com, Selasa dini hari.
Sepanjang hidupnya, Kwik dikenal sebagai figur yang berperan besar dalam berbagai bidang strategis—mulai dari pendidikan, bisnis, hingga pemerintahan. Lahir di Juwana, Pati, Jawa Tengah pada 1935, perjalanan intelektualnya dimulai dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1955.
Tak lama setelah itu, ia melanjutkan studinya ke Belanda, tepatnya di Nederlandsche Economische Hogeschool Rotterdam—yang kini dikenal sebagai Erasmus University Rotterdam—dan lulus pada tahun 1963.
Setelah kembali ke Indonesia, Kwik mengabdikan dirinya di dunia akademik. Ia terlibat dalam pengelolaan Yayasan Trisakti sejak 1968, dan pada 1982 mendirikan institusi pascasarjana bisnis pertama di Tanah Air, Institut Manajemen Prasetiya Mulya.
Bersama ekonom lainnya, ia turut menggagas berdirinya Institut Bisnis Indonesia pada 1987—lembaga yang kini telah berkembang menjadi Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie, yang namanya diabadikan untuk mengenang kontribusinya.
Selain aktif di pendidikan, Kwik juga berkiprah dalam dunia usaha dan menjadi penulis produktif di berbagai media massa nasional, khususnya membahas isu-isu ekonomi dan kebijakan publik.
Namun, tak berhenti di sana, ia juga menapaki jalur politik dengan bergabung ke PDI pada akhir dekade 1980-an. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk menjadi anggota Badan Pekerja MPR RI, mewakili partainya.
Di era kepemimpinan Megawati Soekarnoputri, Kwik mendapat kepercayaan lebih besar. Ia menjabat Ketua DPP PDI Perjuangan dan memimpin Badan Penelitian dan Pengembangan partai.
Ia kemudian menjadi anggota Komisi IX DPR RI dan sempat menjadi Wakil Ketua MPR RI. Tak hanya di legislatif, ia juga masuk ke jajaran eksekutif, menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri dalam kabinet Presiden Abdurrahman Wahid pada 1999, meskipun masa tugasnya berakhir pada pertengahan 2000.
Setelah itu, Kwik dipercaya menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas di era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Kiprah ekonominya yang luas, gaya komunikasi yang lugas, serta sikap independennya dalam bersikap membuatnya disegani di lintas spektrum politik.
Pada Pemilu Presiden 2019, meskipun telah cukup uzur, Kwik tetap aktif memberikan masukan strategis di bidang ekonomi kepada pasangan calon Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Ia dikenal dekat dengan keluarga besar Sumitro Djojohadikusumo, khususnya sebagai rekan berpikir dan sahabat ideologis.
Kepergian Kwik Kian Gie merupakan kehilangan besar bagi bangsa ini. Sosoknya yang bersahaja namun tegas dalam prinsip akan selalu dikenang sebagai inspirasi bagi generasi muda yang ingin mengabdi melalui jalan ilmu dan integritas.
