Politikus PDI Perjuangan Tanggapi Penahanan Roy Suryo dan dr Tifa Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi

Roy Suryo dan dr Tifa ditangkap Polda Metro Jaya pada Jumat 19 Juni 2026 (Instagram @bogorkerasz)

Roy Suryo dan dr Tifa ditangkap Polda Metro Jaya pada Jumat 19 Juni 2026 (Instagram @bogorkerasz)

Suaranusantara.com- Politikus PDI Perjuangan Ferdinand Hutahaean menanggapi soal penahanan pakar telematika Roy Suryo dan dr Tifa atas kasus tudingan ijazah palsu Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi.

Ferdinand mengatakan dirinya kerap mengikuti perkembangan kasus tudingan ijazah palsu Jokowi yang dituduhkan oleh Roy Suryo dan dr Tifa.

Bahkan Ferdinand juga mengikuti beragam narasi yang beradar terkait penahanan Roy dan dr Tifa.

Menurutnya, narasi yang santer diperbincangkan di media sosial terkait penahanan Roy Suryo dan dr Tifa merupakan bagian dari skenario politik yang dikaitkan dengan Jokowi.

Ia menegaskan, narasi tersebut menggambarkan seolah-olah penahanan itu bertujuan menciptakan situasi politik yang dapat menekan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Saya juga melihat banyak sekali konten di media sosial yang kira-kira bunyinya bahwa ini adalah upaya Jokowi,” ujar Ferdinand, Senin 11 Juni 2026.

Ia menjelaskan, dalam narasi yang berkembang, Jokowi disebut ingin menciptakan suasana yang semakin gaduh sehingga berpotensi memberikan tekanan politik terhadap pemerintahan yang sedang berjalan.

“Rancangan Jokowi untuk menciptakan suasana yang lebih kacau yang menekan Prabowo Subianto. Menekan pemerintahan secara politik dan berharap supaya Prabowo semakin goncang, ya siapa tahu jatuh dan Gibran naik. Itulah kira-kira banyak sekali konten yang beredar di media sosial,” tukasnya.

Meski demikian, Ferdinand menilai perlu dilihat sejauh mana keterlibatan Jokowi dalam proses penahanan Roy Suryo dan dr Tifa.

Ia juga mempertanyakan kemampuan kedua tokoh tersebut dalam menggerakkan pendukungnya untuk melakukan aksi-aksi yang lebih besar di luar media sosial.

“Nah pertanyaannya, sejauh mana sebetulnya Jokowi berperan dalam penahanan Roy dan Tifa?” tukasnya.

Kata Ferdinand, apabila Roy Suryo dan dr Tifa mampu memobilisasi pendukung mereka untuk melakukan gerakan besar yang menekan aparat penegak hukum maupun pemerintah, maka hal itu bisa menjadi dasar munculnya asumsi bahwa ada kepentingan tertentu di balik penahanan tersebut.

“Kalau itu mereka bisa lakukan, itu menjadi pembenaran terhadap argumen yang menyatakan Jokowi ada di balik ini supaya pendukung Roy dan Tifa itu melakukan perlawanan demo atau menambah situasi kacau,” ucap dia.

Ferdinand melihat bahwa Jokowi memang memiliki peran besar dalam kasus yang berujung pada penahanan Roy Suryo dan dr Tifa.

Namun ia mengingatkan agar proses hukum yang berjalan tidak berhenti hanya pada tahap penahanan dan persidangan semata.

“Saya melihat bahwa Jokowi memang punya peran besar dalam penahanan ini,” ungkapnya.

Meski begitu, Ferdinand berharap proses hukum berjalan secara terbuka dan memberikan kepastian hukum bagi semua pihak.

“Tetapi jangan sampai penahanan ini hanya bersifat dalam proses pengadilan, tetapi ujung-ujungnya nanti diputus bebas karena Jokowi tidak datang di persidangan,” lanjutnya.

Ferdinand menegaskan pentingnya kehadiran Jokowi dalam persidangan apabila perkara tersebut berlanjut ke tahap pengadilan.

Menurutnya, kehadiran langsung Jokowi akan membantu memperjelas duduk perkara yang selama ini menjadi polemik di tengah masyarakat.

“Inilah yang harus kita yakinkan bahwa Jokowi harus benar-benar datang di persidangan supaya kasus ini menjadi jernih. Itu yang pertama,” tegasnya.

Bukan cuma meminta Jokowi hadir di persidangan, Ferdinand juga mendorong adanya pemeriksaan independen terhadap ijazah Jokowi yang selama ini menjadi pokok perdebatan.

Ia menyebut langkah tersebut penting untuk mengakhiri berbagai spekulasi yang berkembang di publik.

“Yang kedua, harus ada pengujian independen, pemeriksaan independen terhadap ijazah Jokowi. Benarkah itu asli atau tidak? Ataukah buatan yang dibuat menyerupai asli? Ini penting sekali,” terangnya.

Di sisi lain, Ferdinand mengaku tidak terlalu yakin Roy Suryo maupun Dokter Tifa memiliki kapasitas untuk menggerakkan massa dalam jumlah besar sebagai bentuk perlawanan terhadap penahanan mereka.

Sebab, kapasitas dukungan hanya terlihat mengalir di media sosial saja, sementara di lapangan tidak begitu.

“Nah soal kekuatan Roy Suryo dan Tifa, saya tidak yakin bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menggerakkan massa, melakukan perlawanan terhadap penahanan mereka,” katanya.

Ia menilai dinamika yang terjadi sejauh ini masih didominasi perdebatan di ruang digital.

“Mungkin mereka ramai di media sosial, tetapi di lapangan saya pikir mereka tidak punya kemampuan untuk melakukan itu,” lanjut Ferdinand.

Menurutnya, hingga saat ini belum terlihat adanya mobilisasi massa dalam skala besar yang berkaitan dengan isu dugaan ijazah palsu Jokowi.

“Karena kita lihat perjalanan ini kan semua selama ini ramai di media sosial saja, tanpa ada pergerakan yang nyata dan besar di lapangan,” tandasnya.

Ferdinand kembali menegaskan bahwa hadirnya Jokowi di persidangan serta pengujian independen terhadap ijazah yang dipersoalkan akan membantu menjernihkan polemik yang selama ini berkembang di masyarakat.

“Jadi ya kita tunggu saja, saya sih berharap bahwa persidangan berjalan, Jokowi hadir dan ada pengujian independen terkait dengan ijazah Jokowi, apakah asli atau tidak,” kuncinya.

Exit mobile version