Di PENAS Gorontalo, Prabowo Curhat Pernah Minta Aburizal Bakrie Buat Tak Impor Beras

Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan akan menerima tamu Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko, Kamis 2 Juli 2026 (Instagram @sekretariat.kabinet)

Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan akan menerima tamu Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko, Kamis 2 Juli 2026 (Instagram @sekretariat.kabinet)

Suaranusantara.com- Presiden RI Prabowo Subianto dalam dalam acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu 24 Juni 2026 bercerita, dirinya pernah meminta Aburizal Bakrie untuk tidak impor beras.

Prabowo bercerita permintaan itu disampaikan saat menjabat dirinya menjabat sebagai ketua umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Aburizal masih menjabat Menko Bidang Perekonomian pada era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kala itu, Prabowo menemui Aburizal dan meminta untuk tak impor beras lantaran akan memasuki musim panen.

Menurut Prabowo, impor beras pada saat musim panen berpotensi menekan harga gabah di tingkat petani dan membuat mereka kesulitan memperoleh keuntungan

“Waktu itu pemerintah mau impor beras. Saya sebagai ketua umum HKTI menghadap dan saya mengimbau janganlah mengimpor beras, apalagi impor beras pada saat petani mau panen. Hancur harga untuk petani. Petani kita tidak bisa untung, tidak kembali modal,” ujar Prabowo, Rabu 24 Juni 2026.

Saat itu, Prabowo menerima pandangan dari sejumlah pakar yang menilai RI tidak perlu terlalu mempertahankan produksi pangan domestik apabila negara lain dinilai mampu menghasilkan beras dengan biaya lebih murah dan produktivitas lebih tinggi.

Prabowo mengaku terkejut mendengar pandangan tersebut.

Menurutnya, salah seorang penasihat pemerintah ketika itu bahkan menyebut Indonesia lebih baik membeli beras dari Vietnam apabila petani negara tersebut dianggap lebih efisien dibanding petani Indonesia.

“Waktu itu banyak pakar-pakar yang pintar-pintar mengatakan, untuk apa kita membela petani Indonesia kalau petani Vietnam lebih efisien, lebih baik kita beli beras dari Vietnam,” ujarnya.

Menurut Prabowo, pandangan tersebut mengabaikan tujuan utama pembangunan nasional, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, termasuk petani, nelayan, dan kelompok pekerja lainnya.

Ia mengatakan kemerdekaan Indonesia tidak sekadar bertujuan membangun negara, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki kehidupan yang lebih layak melalui akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan, dan penghasilan yang memadai.

“Kita berjuang ratusan tahun untuk mendirikan negara merdeka agar rakyat kita sejahtera. Agar petani, nelayan, buruh, seluruh rakyat Indonesia sejahtera,” ujarnya.

Exit mobile version