Suaranusantara.com- Waspada! Di tengah musim kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kalimantan. Bahkan berdasarkan catatan dari Kementerian Kehutanan pada Minggu 23 Agustus 2026 melaporkan masih terdapat 44 hotspot di Kalimantan Selatan pada pukul 06.00 WIB.
Titik panas tersebut tersebar di Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan upaya penanganan karhutla mulai dari pemadaman darat, patroli dan pemadaman udara, water bombing, operasi modifikasi cuaca, hingga penguatan personel TNI-Polri bersama pemerintah daerah dan masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan.
Lalu pengoperasian sebanyak 52 pesawat di enam provinsi prioritas yang di mana 30 beroperasi di Kalimantan, sedangkan 22 lainnya ditempatkan di Sumatra.
Pemerintah Indonesia juga menambah kekuatan TNI AU untuk memperkuat operasi penanganan karhutla di wilayah Kalimantan.
“Jadi fokus kita saat ini adalah mengendalikan api sedekat mungkin dari sumbernya dan secepat mungkin, karena apabila sumber kebakaran dapat dikendalikan, maka produksi asap dan potensi dampak lintas batas juga dapat kita tekan,” ucap Plt Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BNPB Berton Pandjaitan.
Berton menyebut bahwa pergerakan asap juga perlu dilihat berdasarkan data meteorologi. Faktor yang diperhatikan antara lain arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer, serta hasil pemantauan satelit dan lapangan.
Sementara itu, sebelumnya mencatat sekitar 32 ribu hektare lahan telah terbakar di tiga provinsi Kalimantan hingga 9 Agustus 2026.
Mengutip laporan resmi BNPB (luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas penanganan karhutla mencapai 48.889,69 hektare. Dari angka tersebut, Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan luasan terbesar, yakni 28.680,47 hektare. Kemudian Kalimantan Tengah mencapai 3.069,52 hektare dan Kalimantan Selatan sekitar 383,07 hektare.
Dengan demikian, tiga provinsi di Kalimantan tersebut menyumbang lebih dari 32 ribu hektare lahan terbakar.
Kondisi ini terjadi ketika pemerintah justru tengah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi periode yang diperkirakan menjadi puncak risiko karhutla pada Agustus hingga September 2026.
Apabila karhutla ini terus melanda Kalimantan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 5.019 titik panas terdeteksi di Indonesia hingga 29 Juli 2026.
BMKG menyebut titik panas tersebut terutama terkonsentrasi di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Lembaga tersebut juga telah mendeteksi pergerakan partikulat asap karhutla di Kalimantan Barat.
Kondisi ini tidak terlepas dari situasi iklim yang sedang berlangsung. BMKG mencatat indeks Niño 3.4 pada akhir Juni mencapai 1,56, melewati ambang kategori El Niño kuat yang berada di atas 1,5.
Menurut BMKG, dampak El Niño terhadap Indonesia menjadi lebih terasa ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau.
Namun, El Niño tidak bisa disebut sebagai satu-satunya penyebab kebakaran. Fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai kondisi yang meningkatkan kekeringan dan membuat wilayah rentan karhutla menjadi lebih mudah terbakar.
BNPB menyebut enam provinsi sebagai prioritas penanganan, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Pemerintah juga memperkuat operasi darat dan penanganan di wilayah gambut karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun bagian permukaannya telah dipadamkan.


















Discussion about this post