Suaranusantara.com- Ketua Umum (Ketum) PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri diketahui sebelumnya menerbitkan instruksi yang di mana meminta seluruh kepala daerah PDI Perjuangan untuk menunda keberangkatan ke Magelang guna mengikuti retreat.
Megawati menerbitkan instruksi tersebut dalam sebuah surat yang ditujukan kepada seluruh kepala daerah PDI Perjuangan dengan nomor 7294/IN/DPP/II/2025 yang diterbitkan pada Kamis malam 20 Februari 2025.
Di tengah instruksi Megawati itu, terdapat sejumlah kepala daerah PDI Perjuangan yang tetap memilih mengikuti retreat ke Magelang.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavjan mengatakan bahwa sebanyak sekitar 51 kepala daerah PDI Perjuangan mengikuti retreat di Magelang sejak hari pertama digelar yakni Jumat 21 Februari 2025.
Tito Karnavian menyebut dari 503 kepala daerah, 97 di antaranya merupakan kader PDIP. Tito menyebut dari 97 kepala tersebut, ada 51 orang yang sudah mengikuti retret sejak hari pertama.
“Seinget saya dari data kita, kalau nggak salah ada 97 (kepala daerah) kader PDIP,” kata Tito kepada media di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Minggu malam 23 Februari 2025.
Dan dari semua total kepala daerah, kurang lebih 51 orang kader PDI Perjuangan yang mengikuti retreat sejak hari pertama.
Tito mengatakan bahwa partai hanyalah sebuah kendaraan dalam ajang Pilkada. Namun, yang memilih mereka sebagai kepala daerah adalah rakyat dan tanggung jawabnya ya ke rakyat.
“Jumlah semuanya dari 503 (peserta). Itu lebih kurang 50-an lebih, 51 sudah masuk dari hari pertama. Hari yang pertama ya, karena ya mereka menyadari bahwa ini adalah program dari pemerintah dan ini berguna untuk mereka sendiri dan mereka tahu bahwa inilah pada saat pemilihan, yang memilihkan rakyat ya. Tanggung jawabnya adalah kepada rakyat utamanya,” sambung Tito.
Tito menegaskan kepala daerah bukan dipilih partai melainkan rakyat. Jadi kegiatan retreat adalah untuk kepentingan rakyat.
“Tapi, ketika menjadi kepala daerah bukan karena dipilih oleh partainya, tapi dipilih oleh rakyatnya. Oleh karena itu kehadiran ini untuk kepentingan rakyat, mengharmonisasikan,” katanya.
Selain itu, ajang retreat juga sebagai bentuk untuk bisa mengenal satu sama lain sesama kepala daerah.
Tito pun meminta awak media untuk bertanya langsung kepada seluruh kepaa daerah bagaimana antusiasme mereka di retreat.
“Coba lihat, tanyakan kepada rekan-rekan kepala daerah, antusiasmenya luar biasa dan mereka betul-betul bisa bertemu. Saya malah perintahkan untuk semua gubernur (saat retret) bertemu, berkumpul dengan para bupati/wali kota yang ada di provinsi itu supaya saling kenal,” tambah Tito.
Tito menyebut lewat momen retret ini para kepala daerah bisa saling berkenalan. Lewat materi yang disampaikan dalam retret, masing-masing kepala daerah bisa bertukar pikiran.
“Nah, kalau nggak hadir kan rugi. Mereka nggak jadi bagian itu. Mereka nggak punya punya kesempatan momentum mengenal satu sama lain dalam posisi cair,” tambahnya.
Tito menambahkan dengan jumlah kepala daerah mencapai ratusan orang, tidak mudah untuk bisa saling mengenal dengan cair.
“Tujuh hari lumayan untuk saling kenal, tukar-menukar WhatsApp, saling kenal secara personal, itu perlu waktu. Dan ini mungkin akan sulit terulang kembali,” ujar mantan Kapolri.
Pihaknya pun menunggu kehadiran para kepala daerah yang absen retret untuk segera bergabung.
“Nah, oleh karena itu, saya tahu dalam beberapa waktu ini akan ada lagi yang akan bergabung. Saya nggak akan sebutin jumlahnya bergabung, ya silakan, kita welcome masuk ya, dan kemudian kalau ada yang nggak bergabung nanti ada rencana kita untuk orientasi bagi yang 40, yang daerah yang belum dilantik. Karena apa, karena ada sengketa di MK dan ada yang pilkada ulang,” pungkasnya.
