Terlalu Banyak Minum Air Bisa Bahaya Buat Ginnjal, Ini Kata Dokter Urologi

ilustrasi minum air putih saat cuaca panas terik (foto : istockphoto.com)

ilustrasi minum air putih saat cuaca panas terik (foto : istockphoto.com)

Suaranusantara.com- Air putih kerap dijuluki sebagai “obat mujarab” untuk kesehatan. Banyak orang percaya bahwa semakin banyak meminum air, maka semakin sehat tubuh.

Namun siapa sangka, anggapan itu tidak selalu benar. Dalam beberapa kasus, justru minum air terlalu banyak bisa membawa dampak negatif bagi tubuh.

Menurut Palgunadi, ketika tubuh menerima lebih banyak cairan daripada yang bisa dibuang ginjal, risiko terjadinya ketidakseimbangan elektrolit menjadi sangat tinggi. Ginjal akan dipaksa bekerja lebih keras dari kapasitas normalnya untuk mengeluarkan cairan berlebih, yang dalam jangka panjang bisa menurunkan fungsinya.

Salah satu gangguan yang bisa muncul dari kondisi ini adalah hiponatremia, yakni penurunan kadar natrium dalam darah hingga memicu pembengkakan sel tubuh. Jika dibiarkan, organ vital seperti otak bisa ikut terdampak.

Masalah lain yang bisa ditimbulkan akibat kelebihan cairan adalah retensi, yaitu penumpukan cairan di dalam tubuh. Gejala umumnya mencakup wajah, tangan, atau kaki yang tampak bengkak. Selain itu, tanda lain yang perlu diwaspadai adalah sering buang air kecil dengan warna urine yang sangat bening, mual, pusing, hingga rasa lemas yang tak jelas penyebabnya.

Palgunadi menekankan pentingnya menyesuaikan jumlah cairan dengan kebutuhan masing-masing individu. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda tergantung dari aktivitas, kondisi tubuh, dan status kesehatan. Ia juga mengimbau agar masyarakat, khususnya mereka yang memiliki riwayat gangguan ginjal, berkonsultasi terlebih dahulu sebelum menambah asupan air secara signifikan.

Meskipun minum air putih memang penting untuk kesehatan, bukan berarti semakin banyak dikonsumsi akan semakin baik. Tubuh tetap memerlukan keseimbangan, dan air yang berlebihan justru dapat mengacaukan sistem yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya fokus pada jumlah, tetapi juga memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh.

Exit mobile version